Sejumlah karyawan PT Padoma yang sempat marah dan mengamuk di kantor PT Tunas Papua baru-baru ini. Foto: CAHAYAPAPUA.com | Dina Rianti

Buruh Angkut Beras Tuntut Hak ke Perusahaan Ekspedisi

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com– Supir angkutan beras PT Padoma mengeluhkan gaji dan uang angkutan beras jatah pegawai negeri sipil yang sampai saat ini belum dibayar.

Jumat, (28/11/2014), mereka mengunjungi PT Tunas Papua sebagai perusahaan ekspedisi yang menjadi penanggungjawab atas pencairan gaji sopir dan kernet serta uang angkutan beras ke pedalaman Pegunungan Arfak, Manokwari, Bintuni dan Wondama.

Mereka mempertanyakan sisa uang pembayaran yang sampai saat ini belum juga diberikan.

Salah seorang karyawan PT Padoma sekaligus sebagai pengelola beras Welmina Maryen mengungkapkan, uang pembayaran untuk angkutan sampai saat ini baru dibayarkan setengah dari total yang dibutuhkan.

Mereka harus membayar kurang lebih Rp 300 juta ke pihak ekspedisi, para kernet dan sopir terhitung dari bulan Januari sampai Agustus.

Dengan rincian angkutan ke Kabupaten Pegaf sebesar Rp 288.329 juta, Manokwari Rp 93.487.000 dan 203.971.000, Bintuni Rp. 17.509.000 dan Wondama Rp 54.535.000.

Selain itu uang gaji sopir dan kernet sebanyak 27 orang mulai dari bulan Maret juga belum dibayar dengan total kurang lebih Rp 80an juta.

Hingga saat ini uang angkutan ini belum dibayarkan, sehingga para karyawan mendatangi kantor PT Tunas Papua yang dinahkodai oleh Donatus Rumbiak untuk mempertanyakan kejelasannya.

Untuk menuntut hal ini Welmina sebagai pengelola gaji dan uang angkutan juga mengaku ia sering di datangi sopir angkutan beras yang menuntut gaji dan uang angkutan.

Ia juga mengaku sering diancam oleh para sopir karena uang yang menjadi hak mereka tak kunjung diberikan.

Welmina sendiri mengaku sudah lelah untuk memperjuangkan nasib supir truk dan kernet ini, karena tak kunjung diberikan. Padahal ia sempat mendengar sudah ada perintah pencairan dana dari pemprov.

“Kami datang ke sini untuk minta tambahan dana lagi, karena uang yang mereka kasih tidak cukup untuk pembayaran, dana dari bulan Januari-Agustus kami sudah masukan ke pemprov melalui biro perekonomian untuk verifikasi dana keluar, namun dana yang diberikan tidak cukup untuk kebutuhan mendesak yang seharusnya Rp 700 juta lebih, kami seperti diputar ke sana ke mari,” kata Welmina

Menurutnya, PT Tunas Papua sebenarnya sebagai pihak yang berhak mengeluarkan dana, tetapi tidak kunjung dibayarkan, sehingga hal ini dipertanyakan.

Ia juga mengatakan sudah mencoba laporkan masalah ini kepada pihak kepolisian, namun setelah pelaporan mereka menjanjikan Jumat pukul 10.00 WIT akan dibayarkan, tetapi hingga siang hari belum juga ada pembayaran.

Sementara itu, Direktur PT Tunas Papua Donatus Rumbiak yang mencoba dikonfirmasi wartawan atas kejadian ini sulit ditemui, padahal ia tengah berada di ruang kerjanya.

Menurut salah seorang staf di kantornya, bahwa direkturnya tidak bisa ditemui. “Iya bapak tidak bisa ditemui,” kata staf ini.

Mengetahui direktur tidak mau ditemui para karyawan PT Padoma ini sempat marah dan mengamuk ke dalam kantor meminta kejelasan dari sang direktur yang tidak mau memberikan penjelasan atas tertundanya pembayaran.

Mereka sempat membanting pintu kantor itu. Hal ini juga dilakukan karena mereka belum juga mendapatkan hasil kejelasan pembayaran setelah menunggu dari pagi.

Namun sore hari, sekitar pukul 4 sore, kabarnya telah dijawab. Welmina yang menghubungi wartawan tadi malam mengaku sudah menerima pembayaran. “Sudah damai,” katanya. |DINA RIANTI

 

EDITOR: BUSTAM

Tinggalkan Balasan