Cagar Alam Waiego Barat, Raja Ampat.
Cagar Alam Waiego Barat, Raja Ampat.

CI : Jumlah Wisatawan Raja Ampat Sebaiknya Tak Lampaui Batas

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat, dinilai tidak boleh berlebihan atau melampaui batas demi menjaga kualitas alam yang selama ini menjadi daya tarik.

Wakil Presiden Program Laut Asia Pasific Conservation Internastional (CI) Mark Erdmann di Manokwari, Kamis, mengatakan, pada 10 tahun terakhir pariwisata Raja Ampat sudah berkembang secara pesat. Menurutnya, jumlah pengunjung sudah hampir mendekati daya dukung pengelolaan pariwisata di daerah tersebut.

Mark menilai tepat atas keinginan Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umlati yang ingin mengetahui daya dukung ideal kunjungan wisatawan di daerah yang berada diujung barat pulau Papua itu.

“Baru-baru ini Unipa (Universitas Papua) melakukan kajian untuk mendorong kebijakan-kebijakan baru yang dapat mendukung pengelolaan pariwisata Raja Ampat. Intinya, bahwa jumlah wisatawan yang datang harus mempertimbangkan daya dukung,” ujarnya.

Dia mencontohkan, obyek wisata diving di Missol dan Selat Dampir. Wisatawan cukup antusias menikmati pesona diving dua lokasi tersebut, hingga jumlah rata-rata sudah hampir mendekati data dukung.

Untuk itu, kata dia, penikmat diving harus bisa diarahkan ke lokasi lain baik di wilayah Raja Ampat maupun spot-spot di wilayah kepala burung lainya. Sebab, cukup banyak obyek wisata diving di Papua Barat yang bisa dinikmati pungunjung.

“Selain itu, obyek wisata di Raja Ampat bukan hanya diving. Ada juga tempat pengintaian burung, goa-goa keramat, serta budaya masyarakat. Saya raya hal ini bisa buka untuk memecah konsentrasi wisatawan agar tidak hanya menikmati diving,” ujarnya lagi.

Menurut dia, masih banyak obyek yang bisa dikembangkan di Raja Ampat. Ia menyarankan pemerintah daerah agar tidak menarget jumlah wisatawan secara berlebihan, sebab hal itu dapat menjadi ancaman bagi kualitas obyek wisata.

Raja Ampat, ujarnya harus belajar dengan obyek wisata Bunaken, Sulawesi Utara. Pada tahun 2002 hingga 2003 jumlah wisatawan terus meningkat, namun karena tidak dikelola secara baik jumlah pengunjung di daerah itu pun turun drastis.

Mark pun mendukung kebijakan bupati sejak lima tahun lalu tentang home stay atau penginapan. Pembangunan home stay harus mengedepankan budaya dan kepentingan masyarakat lokal. (IBN)

Tinggalkan Balasan