Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan, Franky Mobilala, SKM, mengirim kelambu untuk masyarakat yang ada di wilayah pesisir.

Daerah endemis Kaki Gajah, Bintuni dapat jatah kelambu dan obat

BINTUNI, Cahayapapua.com— Kabupaten Teluk Bintuni masuk salah satu daerah endemis penyakit kaki gajah. Pada bulan Eliminasi Penyakit Kaki Gajah (Belkaga) yang dilaksanakan setiap Oktober, kabupaten ini mendapat jatah 54 ribu kelambu dan obat pencegahan Kaki Gajah (Filariasis) dari pemerintah pusat.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan, Franky Mobilala, SKM, Rabu (11/10/2017) mengatakan, Kabupaten Teluk Bintuni masih daerah endemis. Karena ada beberapa kasus penyakit Kaki Gajah yang ditemukan oleh petugas medis.

“Ada beberapa titik disini (Bintuni) salah satunya ada titik di Manimeri, Shibena, Tuhiba, dan ada juga satu kasus ditemukan di Tembuni, waktu survei dulu tahun 2006 ada 32 kasus, di Manimeri, Manimeri desa, Bintuni dan Tembuni,” kata Franky Mobilala, kepada wartawan di Pelabuhan Bintuni.

Menurut Mobilala, survei yang dilaksanakan sekitar 11 tahun silam bersama petugas dari pemerintah pusat. Kendati belum kembali dilakukan survei, dengan data tersebut dan ada sejumlah kasus yang ditemukan, kabupaten ini masih dikatakan daerah endemis penyakit kaki gajah.

Dia mengatakan manusia kalau sudah terjangkit penyakit Kaki Gajah susah untuk sembuh dan cacatnya tetap ada. Tapi dalam program Belkaga ini yakni valiarnya dalam tubuh manusia yang sudah terjangkit, supaya jangan menyebar ke yang lain.”Ini kan menyebar melalui nyamuk, seperti Malaria, kalau Malaria hanya ada satu nyamuk, tapi kalau penyakit kaki gajah bisa lewat semua jenis nyamuk,” kata Mobilala.

Lanjut dia, untuk itu melalui Dinas Kesehatan mencanangkan program Belkaga dengan mengkolaborasikan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dan kelambu. Obat pencegah penyakit kaki gajah yang diberikan pada POPM terdiri dari kombinasi tablet Diethylcarbamazine (DEC) 100 miligram dan tablet Albendazole 400 miligram. Obat ini wajib diminum semua warga wilayah endemis berusia 2 tahun hingga 70 tahun.

“Nanti kita disini (wilayah Bintuni Kota) ada 32 titik, karena tahun lalau kita hanya mendapat kuota 15  persen penduduk yang menerima obat velariasi, tahun ini target 65 persen,” ujarnya.

Ia menambahkan untuk kelambu kiriman dari pusat belum sampai ke Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, diperkirakan akhir bulan ini baru datang.  Sementara saat ini pihaknya menyalurkan kelambu sisa program tahun lalu, daerah yang sudah menerima yakni Tanah Merah dan Kaitaro, Wariagar, Moskona Timur dan Moskona Utara. Untuk daerah lain menunggu kelambu datang. (ART)

Tinggalkan Balasan