Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Martuani Sormin Siregar

Dari empat kejanggalan pembunuh juragan coto Makassar terbongkar

Manokwari, Cahayapapua.com–– Empat kejanggalan kasus pembunuhan yang menimpa juragan Coto Makassar Abdul Hakim Hafid (57), dalam olah Tempat Kejadian Perkara, merupakan kunci awal polisi membongkar kasus yang menghebohkan publik 9 April lalu.

Kejanggalan tersebut membawa tim reserse dan kriminal umum Polres Manokwari mengungkap kasus ini hanya dalam waktu 24 hari. Drama pembunuhan yang diotaki sang istri YR (45) ini, ini berujung ditangkapnya sang eksekutor yang adalah mantan pacar sang istri AY (49), di Makassar.

Kejanggalan – kejanggalan tersebut seperti diungkap Kapolda Papua Barat Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Martuani Sormin Siregar, Senin (8/5), adalah upaya istri yang meminta tolong kepada warga 4 jam setelah pembunuhan, perbedaan keterangan saksi yang berada di dalam rumah dengan fakta yang terekam kamera CCTV di sekitar lokasi, rumah korban yang tak mengalami kehilangan harta benda dan telepon genggam putra korban yang disebut hilang dan ternyata diketahui berada di Makassar.

Dikatakan sang istri baru meminta tolong kepada warga sekitar pukul 06.00 WIT pagi, padahal pembunuhan sudah terjadi sejak pukul 02.00 dinihari. Jarak waktu yang panjang ini menurut polisi mengindikasikan adanya riwayat peristiwa yang coba disembunyikan.

Lalu dalam olah TKP tak ditemukan satu pun barang berharga milik korban dalam keadaan rusak atau hilang. Fakta ini makin memperkuat dugaan keterlibatan orang dekat.

Perbedaan keterangan sang istri soal waktu dan jumlah pembunuh yang ternyata berbeda dengan rekaman CCTV yang terdapat di dekat lokasi. Keterangan sang istri juga berbeda dengan keterangan putra korban yang ternyata lebih cocok dengan rekaman CCTV.

“Kalau istri korban menyampaikan, ada tiga orang yang berbadan besar memakai penutup muka (sebo) berkulit gelap. Itu tidak cocok dengan rekaman CCTV. Keterangan anak korban juga hanya ada satu orang saja. Nah inilah bahan-bahan yang dikumpulkan kemudian dikembangkan,” terang Martuani.

Tak hanya itu, kejanggalan berikutnya, telepon genggam putra korban hilang. Setelah ditelusuri, akhirnya diketahui ternyata berada di luar Papua atau tepatnya di Makassar Sulsel (Sulawesi Selatan).

“Kejanggalan-kejanggalan dalam penyelidikan, menjadi hal yang sangat utama, sehingga tim kami berhasil mengungkap peristiwa yang cukup menarik perhatian masyarakat Manokwari. Dan keyakinan kami terjawab bahwa istrinya turut membantu pembunuhan itu,“ ucap Martuani.

Tak berhenti disitu, kata Martuani, dalam proses penyelidikan, penyidik memperoleh beberapa petunjuk yang semakin menjurus ke keterlibatan orang dekat korban. Yakni pada telepon genggam sang istri terdapat percakapan yang sebelumnya dihapus, namun berhasil dilacak menggunakan digital forensik sehingga mengungkap pelaku AY yang berada di Makassar.

“Pelaku pada tanggal 7 April sempat menginap di hotel Fortune (tak jauh dari Hotel Bandara) dan akhirnya kembali ke Makassar 10 April atau sehari setelah kejadian. Dan tim penyidik menemukan baju di belakang hotel. Kaos ini, kuat dugaan milik pelaku selanjutnya kami akan cek di labfor,” terangnya.

Dikatakan, beberapa barang bukti (BB) yang digunakan pelaku telah diamankan. Antara lain, satu pasang sepatu, satu buah celana jeans, jaket, sebo atau penutup muka dan sarung tangan.

Sedangkan pisau yang digunakan menghabisi nyawa korban, hingga kini belum ditemukan karena dibuah pelaku di selokan tak jauh dari TKP. “Keduanya kami tahan dan dijerat pasal 338 dan 340 KUHP yaitu pembunuhan dengan perencanaan,” tutup Martuani. (tnj)

 

 

Tinggalkan Balasan