Panen kedua padi diatas lahan seluas delapan (8) hektar milik kelompok tani yang dipimpin Demitrius Moktis, di Kampung Sidey Pantai Distrik Sidey baru-baru ini. Toyiban/Cahaya Papua

Sekian lama bergelut dengan hutan dan kebun, Demitrius Muktis, seorang kepala kampung di Kampung Sidey Pantai Distrik Sidey memulai usaha baru sebagai petani padi.

ITU hal baru bagi dia, maupun masyarakat suku Arfak bahkan masyarakat Papua pada umumnya. Bicara tentang masyarakat asli Papua, terkhusus dalam hal cocok tanam sebagian besar orang tentu mengidentikanya dengan pertanian dengan pola subsisten yakni berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Komoditas tanaman yang dikembangkan pun berupa tanaman yang tidak terlalu membutuhkan air, seperti jagung, sayuran, umbi-umbian. Berbeda dengan padi sawah.

Sudah satu tahun berjalan, Demitrius menggeluti usaha barunya. Tidak sendiri, ia mengajak seluruh warga di kampung tersebut untuk belajar dan fokus mengembangkan tanaman ini.

Wilayah Kampung Sidey Pantai dahulu berupa hutan dan rawa. Program cetak sawah yang digelontorkan kementerian pertanian ini perlahan mengubah wajah kampung tersebut menjadi sawah padi. “Saat ini sudah ada delapan kelompok tani. Kelompok saya menggarap 8 hektare,” katanya.

Bagi Moktis, pertanian padi bukan hal mudah, namun berkat keteguhan serta bimbingan dari Babinsa Kodim 1703 Manokwari dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) ia semakin yakin profesi baru yang digeluti itu akan membuahkan hasil luar biasa.

Bagi seorang pemula  di dunia  pertanian padi ia tergolong sukses. Selama satu tahun sejak ia mengawali usaha tersebut sudah sebanyak dua kali melakukan panen.

Sabtu pekan lalu, ia melakukan panen keduanya. Panen itu diawali dengan prosesi adat bersama anggota TNI dari Kodim Manokwari yang di Pimpin Perwira Seksi Teritorial Lettu Prapto Widodo selaku Wakil Kepala Pelaksana Lapangan Program Cetak Sawah di Jajaran Kodim.

Danramil Warmare Lettu Sudiantoro, Kepala Kampung Sidey Baru, Anggota Babinsa dan PPL pun hadir pada kegiatan tersebut.

Senyum sumringah terpancar dari wajah Moktis dan anggota kelompoknya. Bagaimana tidak, benih padi yang ia tanam diatas lahan seluas 8 hektare pada November 2017 lalu sudah menguning.

Moktis tak ingin seorang diri, ia mengajak warga lain suku Arfak di kampung tersebut untuk sama-sama membangun kesusksesan melalui usaha pertanian padi.

“Saya terus mendorong warga. Ini kesempatan mumpung ada program cetak sawah gratis yang dilaksanakan pemerintah melalui TNI,” kata dia.

Ading Ari Yanto, Babinsa Kodim 1703 Manokwari mengutarakan, masyarakat Arfak memiliki banyak kelebihan untuk mengembangkan pertanian padi. Hal itu merupakan potensi luar biasa sebagai modal.

“Mereka sudah terbiasa dengan pertanian, tenaga mereka luar biasa. Masyarakat tidak tahu lelah. Disisi lain mereka punya lahan cukup luas. Ini modal luar biasa,” katanya.

Lettu Sudiantoro mengatakan, tugas TNI pada program cetak sawah sejatinya tuntas pada proses pembukaan hingga sawah tersebut siap tanam. Namun di Kampung tersebut, TNI memberikan program lebih untuk mendampingi masyarakat lokal belajar menanam padi.

“Seperti pak Moktis dan warga Arfak lainya, kasian kalau ditinggalkan. Mereka punya semangat bagus, kita harus sambut semangat mereka agar lebih maju,” ujarnya lagi. |Toyiban

 

Leave a Reply