Kwitansi yang ditemukan petugas tersangkut di pohon samping rumah tersangka S, saat rumahnya digeledah untuk mencari bukti dalam kasus dugaan Korupsi Sapi Papua Barat di kampung Sumber Boga Distrik Masni, Manokwari, Papua Barat, Rabu (29/10/2014) Foto: CAHAYAPAPUA.com/ Dina Rianti

Digeledah, Tersangka Korupsi Sapi Sembunyi Kunci Mobil di Timbunan Pasir

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Tersangka kasus dugaan korupsi Swasembada Sapi di Provinsi Papua Barat berinisial S coba menggelabui petugas dengan menyembunyikan sebuah kunci mobil di dalam timbunan pasir di samping rumahnya ketika petugas anti korupsi menggeledah rumahnya, di kampung Sumber Boga, Distrik Masni, Manokwari, Papua Barat, Rabu, (29/10/2014) sore.

Petugas yang menggeledah rumah S merupakan petugas gabungan dari Satuan Reserse dan Kriminal Polres Manokwari, Satgas Anti Korupsi Polda Papua dan tim dari Polsek Masni, disaksikan ketua RT setempat.

Kunci mobil yang disembunyikan itu merupakan kunci mobil jenis carry bak terbuka warna hitam dengan nomor polisi DS 8865 DB. Mobil tersebut diparkir di pinggir sungai sebelah timur rumahnya di Jalur 7. Petugas menduga mobil tersebut merupakan barang bukti dugaan korupsi yang menjerat tersangka.

S juga coba mengelabui petugas dengan membuang sejumlah kwitansi yang dicurigai sebagai bukti ke pohon yang terdapat di samping rumahnya. Bukti kwitansi tersebut tercecer di bawah pohon, ada juga yang tersangkut. Kwitansi tersebut diduga merupakan bukti transaksi program sapi yang dikelola tersangka. Namun suami tersangka mengelak tentang penemuan kwitansi tersebut. Petugas mengatakan S coba menghilangkan barang bukti dengan membuang kwitansi yang ditemukan dibawah pohon itu.

Dalam penggeledahan yang dimulai sekitar pukul 13.00 hingga 15.00 WIT, petugas juga menemukan motor bebek jenis yamaha Xeon warna merah putih dengan plat nomor DS 3359 DR.

Kasat Reskrim Polres Manokwari AKP Irianto Jhon mengatakan, seluruh barang bukti yang ditemukan diduga merupakan barang bukti terkait kasus tersebut sehingga disita.

Petugas anti korupsi Polda Papua ketika berjalan memasuki rumah salah satu tersangka korupsi sapi di kampung Sumber Boga Distrik Masni, Manokwari, Papua Barat, Rabu (29/10/2014) Foto: CAHAYAPAPUA.com/ Dina Rianti

Petugas anti korupsi Polda Papua ketika berjalan memasuki rumah salah satu tersangka korupsi sapi di kampung Sumber Boga Distrik Masni, Manokwari, Papua Barat, Rabu (29/10/2014) Foto: CAHAYAPAPUA.com/ Dina Rianti

Meski berhasil mendapat sejumlah barang bukti, namun dalam penggeledahan tersebut, petugas belum menemukan laptop milik tersangka S. Petugas menduga S menyembunyikan laptop tersebut, sementara suami tersangka mengaku tak tahu perihal laptop tersebut.

Dalam penggeledahan tersebut suami S juga disempat dicecar sejumlah pertanyaan diantaranya soal biaya pembangunan rumah yang mereka tinggali. Sang suami mengaku rumah tersebut merupakan bantuan sosial dari Himpunan Peternak Indonesia (HPI) yang nilainya lebih dari 100 juta. S mengklaim diri sebagai Koordinator Peternak di Kampung Sumber Boga.

Selain menggeledah rumah S, hari itu juga, petugas menggeledah rumah milik tersangka lain dalam kasus ini, AY, di jalur 5 yang tak jauh dari rumah S. Rumah AY digeledah dari pukul 16.00 hingga 19.00 WIT.

Namun saat itu rumah AY kosong. Dengan ijin Ketua RT petugas akhirnya mendobrak rumah tersebut. Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan sejumlah barang bukti seperti  8  pelek modifikasi mobil lengkap,  mesin babat rumput, satu buah mesin alkon, puluhan cangkul dan grobak dorong.

Hal yang unik meskipun rumah AY nampak sederhana dan berdinding kayu dan triplek, namun terdapat CCTV diatas pintu masuk. Setelah periksa, CCTV tersebut ternyata sudah tak berfungsi.

Kasat Reskrim menjelaskan, dari sejumlah barang bukti yang ditemukan, dicurigai ada sejumlah komponen dari mobil yang diduga barang bukti yang diganti seperti pelek dan ban mobil.

Ketika ditanya soal mobil truk milik AY yang dititipkan di kampung Bowi Subur SP 6, ia mengatakan  timnya akan melakukan pemeriksaan kepada siapa pemegang kendaraan tersebut untuk mengetahui kepemilikan kendaraan tersebut.

Sementara itu ketua RT setempat mengatakan AY baru tinggal di SP 7 Kampung Sumber Boga sekitar 3 tahun, namun ia sudah memiliki kekayaan yang dinilai warga tak wajar.

Meskipun sejumlah barang yang diduga barang bukti sudah ditemukan, namun petugas tidak menemukan berkas-berkas kwitansi yang menyangkut dengan HPI. Seperti diketahui, AY mengklaim diri sebagai Ketua Himpunan Peternak Indonesia (HPI) di Papua Barat.

Pada hari yang sama polisi juga menggeledah rumah AY yang berjarak puluhan kilo meter dari Kampung Sumber Boga, tepatnya di Jalan Trikora Wosi, Kampung Makassar, Kota Manokwari.

Menurut Kanit Tindak Pidana Korupsi, Polres Manokwari, Ipda Juman Simanjuntak, dalam penggeledahan tersebut polisi menyita enam unit kendaraan yang terdiri dari kendaraan roda dua dan roda empat. “Barang Bukti (BB) tersebut akan dijadikan bukti di persidangan,” tegas Juman, Rabu (29/10) malam.

S dan AY merupakan tersangka dugaan korupsi proyek program pencapaian swasembada daging sapi dan peningkatan penyediaan program hewani di Papua Barat. Polisi juga menetapkan RJR selaku PPK sebagai tersangka dalam kasus ini.

Juman Simanjuntak sebelumnya menegaskan bahwa penetapan ini baru langkah awal.  “Yang ditetapkan tersangka adalah orang-orang yang paling bertanggungjawab,”kata Juman.

Juman mengatakan berdasar hasil audit investigasi sementara, dugaan kerugian dalam kasus ini mencapai Rp 6 miliar. Masing-masing 4 miliar untuk Manokwari dan Kabupaten Teluk Wondama sebesar Rp 2 Miliar.

Ia menjelaskan dana sebesar Rp 50 Miliar untuk proyek ini telah cair seratus persen. Namun diduga penggunaannya tak sesuai dengan rencana usaha kelompok (RUK).

Dalam dokumen kontrak, terdapat 106 kelompok ternak yang tersebar di wilayah Kabupaten Manokwari. Sementara di Kabupaten Teluk Wondama tersebar 40 kelompok ternak. Dari jumlah tersebut, ada kelompok yang diduga fiktif. Bahkan ketua kelompok yang tercatat di dokumen sudah dimintai keterangan dan mengaku tidak mengetahui keberadaan kelompok tani tersebut.

Jumlah dana yang diterima masing-masing kelompok bervariasi. Tergantung dari program kegiatan masing-masing kelompok. Tetapi yang tertinggi sebesar Rp 510 juta dan yang terrendah Rp 75 juta perkelompok.

Menurut Juman, sapi-sapi tersebut ada yang dibeli di Manokwari.  Namun, khusus tersangka AY membeli 221 ekor sapi di Kobisonta, Maluku. Pihaknya mengatakan akan segera mengagendakan pemeriksaan terhadap para tersangka termasuk beberapa orang saksi. Polisi telah memeriksa puluhan saksi dalam kasus ini. |DINA RIANTI |TAKDIR

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan