PARTAI DEMOKRAT

Dihadang Spekulasi, Demokrat Tetap Dukung Matheos Selano

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Ketua Fraksi Demokrat DPR Papua Barat, Aminadap Asmuruf menilai sejumlah wacana dan aksi yang mendorong penundaan pelantikan ketua DPR Papua Barat hanyalah spekulasi politik yang mengatasnamakan UU Otsus Papua.

Spekulasi itu pada dasarnya menginginkan agar figur yang diusul Partai Demokrat, Matheos S. Selano, gagal dilantik sebagai ketua DPR Papua Barat.

Menurut Aminadap, selain motivasi untuk menggagalkan pelantikan Selano, polemik pelantikan Ketua DPR Papua Barat diperkeruh oleh dramatisasi dan pemahaman yang dangkal terhadap substansi UU Otsus.

Motif politik dibelakangnya juga memperkeruh situasi. Bagaimanapun, jabatan tersebut sudah diatur oleh Undang-undang Pemilu yang menegaskan hak Parpol pemenang Pemilu sebagai penentu.

Aminadap menyebut itu sebagai spekulasi karena belasan bahwa jabatan ketua DPR Papua Barat yang harus diduduki orang asli Papua sama sekali belum diatur dalalam UU Otsus.

“Spekulasi pihak-pihak tertentu dengan dalih UU Otsus ini hanyalah bentuk memaksakan kehendak. Siapa pun dia, mempunyai hak yang sama menjadi ketua DPR PB.  Jangan membenturkan satu aturan dengan aturan yang lainnya. Jangan berspekulasi menggunakan UU Otsus,” ucap Aminadap, Selasa (5/5/2015) kepada sejumlah wartawan.

Partai Demokrat, sebut Amindap, juga tidak akan mengubah usulan mengenai calon Ketua DPR Papua Barat.  “Partai sudah mempertimbangkan semua aspek: kaderisasi, dedikasi, dan loyalitasnya. Ini adalah pertimbangan yang utama,” ucapnya.

Aminadap mencium sikap berat hati pihak eksekutif untuk menindaklanjuti rekomendasi Partai Demokrat mengenai calon ketua DPR Papua Barat.  Karena gubernur bukan lagi pembina politik, maka ia menegaskan bahwa gubernur berkewajiban meneruskan rekomendasi Partai Demokrat, agar pelantikan ketua DPR Papua Barat tidak terkatung-katung.

Aminadap Asmuruf juga menantang Kepala Biro Hukum Pemprov Papua Barat untuk membuat telaah soal pijakan hukum bahwa Ketua DPR Papua Barat haruslah orang asli Papua.|RAZID FATAHUDIN