Illustrasi Obat (Sumber: Sinarharapan.com)

Distribusi Obat ke Pedalaman Papua Barat Telat, Antibiotik Kurang

BINTUNI,CAHAYAPAPUA.com – Sem Asaribab salah satu petugas Puskesmas di Distrik Merdey mengeluhkan adanya kekosongan beberapa jenis obat. Jenis obat yang mengalami kekurangan pada umumnya jenis antibiotik. “Jenis obat yang kurang adalah antibiotik, karena masyarakat dibiasakan untuk obat itu,” ungkap Sem kepada Cahaya Papua, baru – baru ini.

Dengan kondisi ini, ia mengharapkan Dinas Kesehatan bisa segera memberikan penambahan obat-obatan di Puskesmas Merdey. Karena stok obat-obatan yang ada saat ini sangat terbatas, padahal masyarakat sangat membutuhkan ketersediaan obat yang cukup.

Menanggapi hal itu kepala bidang pelayanan medis, dr. Eka Wudya Suraji yang dikonfirmasi koran ini mengaku bahwa akhir-akhir ini telah terjadi keterlambatan pendistribusian obat ke pusat pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas). Keterlambatan itu dikarenakan adanya perubahan sistem pengadaan obat secara nasional yang mengacu pada e-katalog.

“Karena baru sehingga menyebabkan sedikit keterlambatan dalam proses pengadaan obat dari suplier ke dinas kesehatan. Dan tentunya hal itu tidak mempermudah distribusi obat karena kondisi geografis,” ujarnya.

Diinformasikan bahwa saat ini stok obat yang mengalami keterlambatan sudah tiba di dinas kesehatan dan hanya menunggu proses pendistribusiannya.
“Ini hanya sementara, mungkin dalam satu, dua minggu sudah teratasi,” yakinnya.

Dijelaskan sistem e-katalog dalam penyediaan obat, menurutnya pihak ketiga (kontraktor) penyedia obat sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat dengan harga tertentu. Sehingga pihaknya harus memesan ke vendor-vendor tersebut tanpa melalui proses pelelangan.

“Harapannya ingin lebih cepat, tapi ternyata sebagian dari vendor ini, karena vendor nasional yang mungkin belum paham dengan kondisi di Papua sehingga pengirimannya terlambat. Selain sistem pembuat kontraknya juga online, apalagi sistem online di Papua tidak pernah mudah. Hal itu menghambat proses pemesanan obat-obatan,” jelasnya.

Dengan adanya pengalaman tersebut, kedepan dipastikan akan lebih baik lagi sehingga keterlambatan pendistribusian obat ke puskesmas-puskesmas dapat dihindari.“Sebenarnya kita mempunyai stok obat cukup banyak, sehingga kita masih gunakan itu.  Cuma stok obat tahun 2014 yang membuat sedikit terlambat, yang harusnya sudah datang tapi terlambat satu sampai dua bulan,” terangnya.

Sementara terkait obat yang kadaluarsa, menurtnya hal itu tergantung dari petugas di unit pelayanan kesehatan masing-masing untuk memperhatikan obatnya yang kadaluarsa atau tidak.“Mungkin karena beban kerja, sehingga ada yang terlewatkan,”pungkasnya.|ARIMURTI

Tinggalkan Balasan