Ilustrasi

Dituntut 8 Tahun dan Denda 5 Miliar, Yogi Menangis

SORONG, Cahayapapua.com—- Dituntut 8 tahun penjara dan denda 5 miliar, subsidair 6 bulan kurungan oleh jaksa penuntut umum terdakwa Yogi Andika Putra Yahya (19), tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak, menitikkan air mata.

Usai persidangan, Kamis (22/9) di Pengadilan Negeri Sorong, terdakwa yang dikawal petugas tahanan Kejaksaan Negeri Sorong menitikan air mata, tak percaya dengan tuntutan JPU.

Terdakwa oleh JPU Arnolda Awom dinilai terbukti melakukan tindak pidana dengan kekerasan dan ancaman kekerasan memaksa anak bersetubuh. Perbuatan terdakwa melanggar pasal 81 ayat (1) Jo pasal 76 D Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undag-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Setelah mendengar tuntutan jaksa, melalui penasihat hukumnya Yesaya Mayor terdakwa meminta keringanan hukuman. Dan atas permohonan terdakwa tersebut, hakim Dinar Pakpahan menunda persidangan hingga Kamis pekan depan dengan agenda putusan.

Persetubuhan yang dilakukan terdakwa terhadap gadis dibawah umur berinisial DAW terjadi pada Minggu tanggal 5 sampai dengan Kamis tanggal 23 Juni 2016 sekitar pukul 19.00 WIT di salah satu penginapan di Kota Sorong.

Persetubuhan berawal ketika terdakwa menelpon korban DAW untuk ketemuan lalu korban meminta terdakwa untuk menjemputnya di Jalan Sagu. Setelah bertemu, terdakwa kemudian mengajak korban untuk menginap di rumah teman terdakwa di samping SPBU Jalan Jenderal Sudirman.

Ketika berada di rumah teman terdakwa, korban disetubuhi oleh terdakwa. Namun sebelum perbuatan tidak bermoral itu dilakukan korban sempat menolak, akan tetapi terdakwa merayu dengan mengatakan jika hamil terdakwa akan bertanggung jawab, korban tetap menolak. Terdakwa lantas memukul korban lalu dengan paksa melucuti pakaian korban dan menyetubuhinya.

Tak hanya sekali, terdakwa juga menyutubuhi korban di tanggal 6 Juni ketika mengajak korban ke Raja Ampat. Terdakwa meminta korban untuk berhubungan badan tetapi ditolak sehingga terdakwa kembali memukul korban.

Persetubuhan yang dilakukan terdakwa terus berlanjut hingga tanggal 15 dan 23 Juni 2016. Dan setiap kali mau menyetubuhi korban, terdakwa kerapkali melakukannya dengan paksaan. (JOS)

Tinggalkan Balasan