Sejumlah bantuan (bawah) yang terkumpul dalam aksi Peduli Asmat Pemerintah Papua Barat.

Donasi publik untuk Asmat meluas

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Pemerintah Provinsi Papua Barat menggalang bantuan dari kalangan para pegawai untuk disalurkan kepada warga di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan (kanan, atas) memasukkan selembar amplop kedalam sebuah kotak bersama sejumlah pegawai dalam aksi Peduli Asmat Pemerintah Provinsi Papua Barat, usai apel pagi aparatur sipil negara Pemprov Papua Barat, Selasa (30/1).

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, Selasa (30/1), menggelar apel gabungan seluruh organisasi perangkat daerah dalam rangka pengumpulan donasi kemanusiaan tersebut.

Selain warga Asmat yang mengalami dampak kejadian luar biasa (KLB), donasi yang terkumpul juga akan diserahkan kepada masyarakat Kabupaten Kaimana yang berdomisili di wilayah perbatasan kabupaten tersebut dengan Teluk Wondama, Nabire dan Timika Papua.

“Tentu tidak hanya menggalang bantuan dari para ASN (aparatur sipil negara). Pemprov Papua Barat pun mengalokasi anggaran untuk mendukung bantuan ini,” kata Gubernur saat ditemui usai apel.

Ia mengutarakan, bencana gizi buruk dan campak yang dialami anak-anak di Kabupaten Asmat menjadi keprihatinan bersama. Bantuan yang disalurkan Pemprov Papua Barat diharapkan bisa meringankan warga di sana.

Menurut gubernur, penggalangan bantuan bagi ASN Papua Barat tidak bersifat memaksa. Hal itu dilakukan bagi pegawai yang memiliki niat baik untuk meringankan beban Asmat serta warga di pedalaman Papua Barat.

“Setelah bantuan terkumpul semua, kita akan berkoordinasi dengan Pemprov Papua dan Pemkab Asmat. Saya berharap bantuan bisa segera di salurkan,” katanya.

Bantuan bagi warga berbatasan Kaimana, akan ia serahkan sendiri kepada masyarakat, sekaligus untuk meninjau kondisi masyarakat serta layanan pemerintah di wilayah tersebut.

Bantuan yang dikumpulkan pemerintah Papua Barat tak hanya berupa uang, pakaian layak pakai, selimut dan sarana olahraga pun diterima pada penggalangan ini.

Terlihat setelah apel, tim mulai menyortir bantuan barang yang sudah terkumpul di pendopo kantor gubernur. Selimut, alat olahraga, pakaian dewasa, pakaian anak-anak serta beberapa barang lain mulai dipak dan dipisahkan untuk mempermudah proses penyaluran.

Sementara itu, warga yang tinggal di Kampung Muri, wilayah terpencil yang jauh dari jangkauan, di Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, jarang mendapat layanan kesehatan.

Anak-anak setempat mulai dari balita hingga usia SD belum mendapatkan pelayanan imunisasi campak. Padahal tanpa imunisasi anak-anak sangat rentan terjangkit virus campak yang bisa merenggut nyawa mereka.

Anak-anak di kampung itu diketahui belum mendapat imunisasi campak, sewaktu tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama melakukan layanan pengobatan massal bagi warga Kampung Muri, baru-baru ini.

Pengobatan massal itu merupakan bagian dari bakti sosial yang digelar komunitas motor Wondama Trail Club (WTC) ke kampung yang berada di perbatasan Kabupaten Kaimana dengan Kabupaten Teluk Wondama.

Hanok Waprak selaku ketua tim pelayanan kesehatan di Kampung Muri menuturkan, pihaknya langsung memberikan imunisasi campak  begitu mengetahui anak-anak setempat sama sekali belum mendapatkan imunisasi.

“Kami juga berikan imunisasi untuk anak-anak. Karena kita takut jangan sampai seperti di (Kabupaten) Asmat, anak-anak ini bisa kena campak. Jadi lebih bagus kita  berikan pencegahan daripada mereka sampai kena, “ jelas Waprak yang merupakan Kabid P2M Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama.

Kepala Kampung Muri Jitro Samiata membenarkan warganya termasuk anak-anak sangat jarang mendapat layanan kesehatan. Di kampung berpenduduk 116 jiwa ini sebenarnya sudah tersedia Puskesmas Pembantu. Namun pelayanan kesehatan tidak berjalan karena petugas medis tidak pernah ada di tempat.

“Paling datang (tim kesehatan) satu kali satu tahun. Jadi di sini banyak anak-anak meninggal sewaktu dilahirkan. Banyak ibu-ibu juga tidak bisa punya anak, tidak tahu kenapa bisa seperti itu, “ ujar Jitro.

Dari hasil pemeriksaan tim kesehatan, didapatkan satu warga Muri positif menderita filariasis atau penyakit kaki gajah. Sementara tiga orang lain menderita frambosia yakni luka menahun yang tak kunjung sembuh. Dalam bahasa lokal penyakit jenis ini dikenal dengan sebutan ‘boba’.

“Dari hasil pemeriksaan malaria di sini malah tidak ditemukan malaria. Kebanyakan penyakit kulit seperti Kaskadu (kulit korengan dan bersisik putih), “ imbuh Waprak.

Waprak mengaku pihaknya tergerak melakukan pelayanan kesehatan di Kampung Muri yang merupakan bagian dari Kabupaten Kaimana semata-mata karena ingin membantu warga setempat.

“Bukan kami bermaksud mengambil hak dari Dinas Kesehatan Kaimana tapi kami hanya lakukan bakti sosial karena di sini jauh dari jangkauan dari mana-mana. Dan secara adat kami  (Teluk Wondama) memang masih keluarga dengan mereka di sini.  Juga di sini tidak ada petugas medis, “ jelas Waprak. (ibn/brv)

Leave a Reply

%d bloggers like this: