Temu media Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Migas Wilayah Papua-Maluku, Rinto Pudyantoro dan Dinas Ketenaga Kerjaan dan Transmigrasi Papua Barat di Manokwari.

DPRPB: Tenaga kerja OAP harus tetap diutamakan di proyek Train 3

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat (DPRPB), meminta 30 persen tenaga kerja orang asli Papua yang dibutuhkan pada proyek Tangguh Train 3 di Kabupaten Teluk Bintuni, tetap diprioritaskan kepada orang asli Papua.

Anggota Komisi D DPRPB  Provinsi Papua Barat Yonadab Trogea mengatakan, operator Tangguh BP Indonesia, SKK Migas dan dinas tenaga kerja provinsi maupun kabupaten harus memastikan agar kuota tersebut tetap dipastikan untuk orang asli Papua.

“Rekrutmen tenaga kerja Train 3 Tangguh sebanyak 7000 pekerja itu 30 persennya pekerja OAP. Ini harus benar-benar menjadi prioritas,” ujarnya kepada Cahaya Papua, Selasa (20/2).

Soal skill, kata dia, perusahaan wajib menyiapkan dan merupakan tanggungjawab perusahaan karena kehadiran perusahaan di Tanah Papua adalah untuk mensejahterakan masyarakat setempat.

“Sebaiknya kalau tidak bisa menerima orang asli Papua, tutup saja perusahaannya. Karena kehadiran perusahaan disini untuk mensejahterakan orang asli Papua sebagai pemilik negeri ini,” ujarnya.

Menurutnya, perusahaan bersama pemerintah wajib menyiapkan tenaga kerja skill, unsklill dan semi skill secara matang untuk bekerja pada proyek Train 3 tersebut.

“Mencari tenaga kerja di luar daerah bukan alasan perusahaan, karena keberadaan perusahaan tersebut di tanah Papua sudah cukup lama. Jika tidak bisa mengakomodir OAP sebanyak 30 persen, perusahaan tersebut layak untuk ditutup,” kata Yonadab mengulangi penegasannya.

Yonadab menyatakan tidak tepat jika perusahaan atau pemerintah daerah baru mau memikirkan pembinaan tenaga kerja untuk bekerja di Train 3 sementara proyek Tangguh Train 3 telah dimulai sejak bulan April 2017. Pernyataan ini menanggapi rencana pembinaan tenaga kerja yang baru akan dimulai tahun ini.

“Perusahaan seharusnya sudah harus memikirkan hal tersebut sebelum beroprasinya Train 3. Itu hanya alasan klasik perusahaan dalam mengabaikan orang asli Papua,” tukasnya. |Elyas

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: