Sedikitnya 70 warga Australia berperang di Suriah dan sekitar 20 orang yang kembali ke tanah air menjadi ancaman bagi keamanan dalam negeri. (Reuters David Gray)

Drama Penyaderaan di Sidney, Tiga Sandera Dibebaskan

SYDNEY, CAHAYAPAPUA.com— Tayangan langsung stasiun televisi memperlihatkan tiga sandera terlihat lari keluar dari kafe Lindt yang menjadi lokasi penyanderaan oleh orang bersenjata.  Tayangan itu memperlihatkan ketiga orang meninggalkan kafe dan satu diantaranya mengenakan celemek bertuliskan Lindt.
Sementara polisi bersenjata lengkap mendekati pintu kafe.

Polisi mengatakan satu orang bersenjata menyandera sejumlah orang di dalam kafe yang dipaksa memegang bendera berwarna hitam dengan tulisan Arab berwarna putih di jendela kafe.

Polisi Australia mengatakan bahwa juru runding telah berhubungan dengan penyandera tetapi menolak berspekulasi mengenai motif perilakunya itu.

Kepolisian menolak menyebut jumlah sandera yang masih berada di dalam kafe.

“Tidak sampai 30 orang,” kata Catherine Burn Wakil Komisaris Polisi New South Wales.

Burn mengatakan kepada wartawan bahwa tidak ada indikasi bahwa sandera yang masih ada di dalam kafe terluka.

Pelaku memulai penyanderaan ini pada pukul 10 pagi waktu setempat, polisi segera mengepung dan menutup daerah ini 15 menit setelah peristiwa terjadi.

Motif pelaku masih simpang siur karena media sebelumnya memberitakan bahwa para sandera dipaksa memegang bendera berwarna hitam dengan tulisan Arab berwarna putih yang merupakan bendera ISIS.

Namun, satu media setempat mengutip seorang pakar terorisme dari universitas di kota itu bahwa bendera itu bukan bendera ISIS tetapi bendera dengan kalimat Syahadat yang banyak digunakan oleh kelompok-kelompok jihadis lain.

Sebelumnya, Australia menyatakan dalam keadaan waspada penuh dari ancaman serangan warga negaranya yang ikut berperang dengan ISIS di Timur Tengah dan telah kembali.

ISIS sebelumnya meminta para pendukung kelompok Islamis ini untuk menyerang negara mereka masing-masing dengan senjata yang mereka miliki.

Sementara itu, Dewan Ulama Nasional Australia, dengan tegas mengecam perilaku kriminal ini.

Pernyataan tertulis bersama dari Ulama Besar Australia berbunyi “perilaku itu dikecam dalam Islam”, dan menambahkan bahwa mereka masih menunggu informasi mengenai identitas dan motivasi pelaku.

Imam Besar dan dewan menyatakan “dukungan dan solidaritas penuh bagi para korban dan keluarga mereka dan bertekad mengatasi insiden ini dengan damai”. |CNN INDONESIA