Landasan pacu Bandara Rendani Manokwari, nampak sebuah pesawat hendak lepas landas.

Dukung Pengembangan, Warga Minta Kompensasi yang Layak

Wacana pengembangan Bandar Udara Rendani lewat perpanjangan landasan pacu terus mengemuka. Merespon hal itu, warga yang diperkirakan mendapat dampak langsung karena asetnya masuk dalam area pengembangan, mengatakan pada prinsipnya mendukung rencana tersebut. Meski begitu, kerelaan warga melepas aset demi pembangunan fasilitas publik hendaknya dibalas oleh pemerintah dengan kompensasi yang layak.

 

INILAH yang disuarakan salah satu warga kawasan Taman Ria, Rendani, Herman Salabai yang ditemui Sabtu (20/8) lalu. Herman mengaku tinggal di kawasan Rendani sejak 1988 silam. Ia mendapat informasi bahwa dalam master plan, lokasi rumahnya juga terkena dampak. Jika itu benar maka, tentu saja ia dan keluarga harus angkat kaki dari tempat tinggalnya karena kemungkinan digusur.

Meski mengaku khawatir namun Herman mengatakan secara prinsip ia mendukung rencana tersebut. Yang penting, hak-hak warga yang terkena dampak tidak diabaikan begitu saja oleh pemerintah atau otoritas bandara.

“Saya mendukung kalau bandara ini mau diperpanjang.  Karena ini untuk kebaikan warga dan generasi berikut juga. Tapi pemerintah perlu melihat kami masyarakat kecil yang terkena dampak. Yang saya harapkan hanya ganti rugi yang layak,” ujar Herman kepada Cahaya Papua.

Itu sebabnya, dibalik wacana pengembangan Bandara, pemerintah diharapkan lebih sensitif terhadap hak-hak masyarakat agar tidak muncul persoalan baru. Bukan itu saja, sosialisasi hendaknya dilakukan agar masyarakat mendapat informasi yang memadai mengenai rencana tersebut berikut dampaknya.

Herman mengatakan, warga tidak akan menghalang-halangi rencana tersebut jika sudah mendapat kepastian dan kesepakatan terutama mengenai kompensasi.

Hal senada disampaikan salah satu pemuka warga di kawasan Taman Ria-Rendani, Isak Katebu. Ia mengatakan jika relokasi warga terpaksa dilakukan, sebaiknya lokasi yang disiapkan tidak serta merta memutus kehidupan warga dengan lokasi dan lingkungan semula, sebab hubungan itu sudah tertanam kuat dan bergenerasi.

Maka, jika relokasi dilakukan, penting bagi pemerintah untuk melihat latar belakang kehidupan warga. “Kalau kita yang berasal dari sini jangan direlokasi ke tempat-tempat yang jauh seperti  Pantura, Maruni atau Pasir Putih. Tetapi Pemerintah mungkin bisa kasih tempat di Rendani Gunung,” katanya.

Selain itu ia meminta agar lokasi baru yang disiapkan pemerintah menyediakan fasilitas yang membuat peri kehidupan warga jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Minimal, kata Katebu, tersedia hunian layak, akses terhadap air bersih, listrik, lahan, hingga jalan.

Berdasar informasi yang dihimpun media ini dari sejumlah pihak yang memiliki otoritas terhadap rencana ini, perluasan landasan pacu nantinya akan berdampak juga pada poros Jalan Esau Sesa. Itu sebabnya ada wacana bahwa poros jalan Esau Sesa akan dirombak total dengan membuka akses jalan baru melalui Rendani Gunung, Kampung Soribo hingga tembus di Dataran Sowi.

Bupati Kabupaten Manokwari, Demas Paulus Mandacan mengatakan, masyarakat yang terkena dampak perluasan tersebut, dipastikan mendapat ganti rugi layak awal tahun 2017. Patokan pemerintah adalah nilai jual objek pajak atau NJOP.  (ACS)

Tinggalkan Balasan