Maxsi Nelson Ahoren (Papuakini.com)

Dukungan mayoritas antarkan Maxsi Ahoren nahkodai MRPB

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Maxsi Nelson Ahoren terpilih sebagai Ketua Majelis Rakyat Papua Papua Barat untuk periode jataban 2017-2022. Dua orang lainya, masing-masing Macclerita Kawab dan Cyriliius Adopak sebagai wakil. 

Proses pemilihan yang berlangsung di Ballroom Mansinam Beach Resort dipimpin ketua sementara MRPB,Cyrilius Adopak sempat diskorsing beberapa kali. Saat itu sempat ada aksi dari massa yang menuntut agar jabatan ketua MRPB diberikan kepada figur dari Wamesa.

Dalam proses pemilihan ini terdapat 9 calon, masing-masing 3 dari unsur adat, 3 unsur perempuan dan 3 calon dari unsur agama. Forum juga sebelumnya menyepakati bahwa yang akan menjadi ketua dari unsur adat.

Mekanisme pemilihan dilakukan secara voting. Terdapat 42 anggota MRPB, namun hanya 41 orang yang memberikan hak suaranya sedangkan 1 anggota MRPB berhalangan hadir karena sakit.

Pemilihan didahului dengan pemilihan ketua yang berasal dari unsur adat. Tiga calon muncul antara lain Maxi Ahoren, Semuel Kambuaya dan Mathias Komigi. Maxsi meraih 30 suara disusul Semual Kambuaya 6 suara dan Mathias Komigi 5 suara.

Selanjutnya pemilihan wakil ketua dari unsur perempuan. Maccclerita Kawab meraih 26 suara terbanyak dan berhak atas jabatan wakil ketua, sedangkan dua calon lainnya Salomina Inyomusi hanya 2 suara dan Agnes Isir 13 suara.

Persaingan ketat terjadi pada pemilihan wakil ketua MRPB dari unsur agama. Ketiga calon yang muncul yakni Edi Kirihio, Muhamad Ghafur Tambawang dan Cyrillius Adopak Cyriliius pun terpilih dalam proses berembuk.

“Sebagai orang tua saya menyatakan mundur dan memberi kesempatan kepada yang muda,” ujar Ghafur disambut tepuk tangan anggota MRPB lainnya.

Ketua sementara MRPB,Cyrillius Adopak meminta kepada sekretariat untuk segera berkoordinasi dengan Gubernur Papua Barat membicarakan tahapan pelantikan ketua dan wakil ketua MRPB terpilih.

“Pelantikan supaya dapat dilaksanakan agar MRP Provinsi Papua Barat bisa segera melaksanakan tugas-tugasnya,” sebutnya.

Pada kesempatan itu ia juga minta anggota MRPB mendukung ketua dan wakil ketua. Sebaliknya para pimpinan dapat menjalin koordinasi dan sinergitas sehingga tugas-tugas MRPB dapat terlaksana dengan baik.

“Saling koordinasi sangat penting. MRP sebagai lembaga kultural orang asli Papua mempunyai tugas berat untuk pemberdayaan dan perlindungan orang asli Papua,” tukasnya.

Sementara itu 8 calon anggota MPRB yang sedang mengajukan gugatan ke PTUN Jayapura menganggap pemilihan ketua MPRB merupakan bentuk pemaksaan kehendak mengingat saat ini proses gugatan mereka masih berlangsung.

“Hargai proses hukum yang sedang, apabila ini dilakukan akan berdampak hukum,” kata Watora Sekretaris tim gugatan Ismael Watora kepada Cahaya Papua, Senin (29/1).

Dia mengatakan kepastian hukum atas putusan PTUN akan segera dikeluarkan. Menurut dia jika keputusan berpihak pada penggugat maka akan ada anggota MPRB yang tergantikan.

“Kami pastikan dalam waktu dekat keputusan tetap atas SK Gubernur dan Mendagri yang menjadi perkara sudah bisa diputuskan. Kami tetap mendukung Ketua terpilih, tetapi hargailah proses yang berjalan,” ujarnya.

Selain itu Ismail meminta pubik jangan sampai menilai gugatan mereka atas dasar dorongan pihak tertentu, “sebab gugatan yang dilakukan lahir dari kesadaran anak adat yang taat di negeri hukum.” (ibn/mar)

Leave a Reply

%d bloggers like this: