Astrid warga Reremi. Minta solusi terkait kesulitan membeli obat antibiotik di Apotik dan toko obat di daerah ini.

Edaran BPOM dituding rugikan pengusaha apotik

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Terbitnya surat edaran Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Perwakilan Papua Barat, yang ditandatangani oleh Kepala BPOM, Mojaza Sirait, September lalu, yang mengatur pelayanan obat, dituding merugikan sejumlah pengusaha apotik. 

Azis, karyawan salah satu apotik di Jalan Yos Sudarso Kota Manokwari, mengatakan, BPOM harus mengambil langkah secepatnya untuk mereview kembali isi dari surat edaran tersebut.

Semestinya, lanjut dia, BPOM mengklasifikasi jenis dan dosis obat antibiotik yang dilarang diperjualbelikan secara bebas tersebut. Selain itu, jumlah yang diperobolehkan juga harus jelas.

“Semestinya ada kebijakan untuk penjualan obat antibiotik jenis generik (umum) ini. Karena banyak masyarakat yang datang membeli obat antibiotik, jenis generik. Seperti Ampicilin, Amoxcilin dan Paracetamol. Jenis obat ini sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat,” tuturnya.

Menurut Azis, sejak sekian lama, di setiap apotik memiliki apoteker atau asisten apoteker, yang dapat membantu masyarakat ketika menanyakan jenis dan dosis obat dari resep diperoleh.

“Harusnya hal ini bisa disikapi dengan bijak, bukannya  mengeluarkan edaran yang menyulitkan masyarakat. Kalau Apotik yang punya dokter praktek, mungkin sedikit tidak terlalu terganggu pemasukannya, tapi yang tidak ada dokter praktek di apotiknya bagaimana?,” pungkasnya.

Terpisah, Jun salah satu pemilik apotik juga mengungkapkan, sejak adanya edaran tersebut, pendapatannya perlahan menurun. Hal ini disebabkan, edaran tersebut mengharuskan pembelian obat antibiotik jenis generik menggunakan resep dokter.

Sedangkan untuk memperoleh satu resep dokter saja kata dia, harus mengeluarkan biaya yang kadang lebih mahal dari harga obat yang ingin dibeli oleh masyarakat.

“Masyarakat banyak yang mengeluh, kenapa beli obat panas saja, seperti Amoxicillin dan Paracetamol, harus pakai resep dokter. Sedangkan resep dokter lebih mahal dari harga obat ini. Dan kami (pemilik apotik) tidak berani layani kalau tidak ada resep, karena edaran tersebut,” terang dia.

“Jujur, saya terpaksa berhentikan baik-baik satu karyawan saya, karena tidak mampu lagi bayar gajinya, pendapatan tidak sebanding,” keluhnya. (cr-80)

Tinggalkan Balasan