Ilustrasi

Ekonomi Indonesia, BI: Waspadai Resiko Turbulensi Pasar Keuangan Global

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Papua Barat Henri N. Tanor mengungkapan, tantangan perekonomian Indonesia yang menanti didepan mata adalah risiko turbulensi di pasar keuangan global. Yang dapat dipicu oleh kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, the Fedfund rate.

Cepat atau lambat, sebagaimana yang diperkirakan oleh banyak pihak, normalisasi kebijakan tersebut akan terjadi. Hal ini disampaikan Henri dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia 2014 di Ball Room Aston Niu Hotel Manokwari, 13 Januari lalu.

Sekecil apapun kenaikan suku bunga di Amerika Serikat menurut dia, akan mengubah seluruh konstelasi geo-moneter. Penilaian ulang terhadap risiko investasi dan valuasi aset finansial di pasar global yang akan mengikuti kenaikan the Fed-fund rate dapat memicu pergeseran penempatan investasi portofolio lintas negara.

Akibatnya, likuiditas dollar AS dapat mengetat terutama di negara-negara dengan fundamental ekonomi yang lemah. Bagi Indonesia, normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat dapat berimplikasi pada berkurangnya aliran modal masuk, yang selama ini telah memberi manfaat bagi pembiayaan fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan.

Disamping tantangan tersebut, BI mencermati pula adanya tantangan struktural di sektor riil, berupa kelemahan pada struktur produksi domestik. Selama ini, ketergantungan Indonesia yang tinggi pada ekspor SDA bernilai tambah rendah, telah membuat pertumbuhan ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga.

Selain itu, kemampuan kita untuk mengekspor barang bernilai tambah tinggi, baik dengan memanfaatkan faktor produksi domestik maupun dengan impor barang antara, juga masih sangat lemah.

Kemampuan kita memosisikan diri sebagai sentra produksi dunia menjadi penting di era Komunitas Ekonomi ASEAN 2015. Di era tersebut, ASEAN akan menjadi salah satu perekonomian terbesar di Asia bersama Tiongkok. Di kawasan ini akan terdapat 600 juta konsumen yang hampir setengahnya adalah penduduk Indonesia, termasuk penduduk Provinsi Papua Barat yang mencapai 800 ribu jiwa.

Dalam kaitan itu BI berbesar hati dan mencatat, bahwa langkah-langkah strategis dan taktis telah dipercepat oleh Pemerintah pada simpul-simpul reformasi struktural yang mendesak.

Simpul-simpul tersebut antara lain penguatan konektivitas fisik terutama maritim, kemudahan berusaha, kualitas layanan publik dan tata kelolanya serta kualitas sumber daya manusia. |RIZALDY