Pertemuan tahunan bank Indonesia 2015 di salah satu hotel di Manokwari

Ekonomi Papua Barat Tahun 2016 Diperkirakan Tumbuh 6 – 6,4 %

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi provinsi Papua Barat pada tahun 2016 akan berada pada level 6 hingga 6,4 persen atau naik satu persen lebih dibanding pertumbuhan ekonomi tahun ini yang diperkirakan berada pada level 4,5 – 5 persen.

“Hal ini seiring meningkatnya investasi dan ekspor sebagai dampak peningkatan produksi industri gas serta serta masih terjaganya konsumsi pada level yang tinggi,” kata Kepala BI perwakilan Papua Barat, Henri N Tanor dalam pertemuan tahunan BI di hotel Aston Niu, Manokwari, Senin (14/12).

Prediksi pertumbuhan ekonomi Papua Barat tersebut lebih tinggi dari target pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya berada pada level 5,2 – 5,6 persen.

BI optimis pertumbuhan ekonomi Papua Barat meningkat cukup tajam bertumpu pada 4 sektor utama industri pengolahan migas, pertambangan dan penggalian, konstruksi dan industri padat karya.

Analis ekonomi Bank Indonesia perwakilan provinsi Papua Barat Adi Perdana, mengatakan, harga migas, pada tahun 2016 dipasar global, diprediksi akan meningkat. Ini akan berdampak pada meningkatnya harga jual migas dari Papua Barat. Jika ini terjadi, BP Tangguh, di Teluk Bintuni mampu menyumbang pertumbuhan hingga 50 persen. “95 persen ekspor Papua Barat kalau kita lihat disumbang oleh LNG,” tambah dia.

Sementara pada sektor kontruksi, BI menyatakan, banyaknya proyek infrastruktur dasar, seperti proyek jalan dan jembatan, pembangunan pelabuhan berkapasitas besar, pembangunan perkantoran di hampir sebagian besar kabupaten, mampu menyumbang 11 persen.

Di sektor padat karya seperti perikanan, pertanian, kehutanan dapat menyumbang hampir 11 persen. Adi menekankan, sektor ini jika diperhatikan dengan baik oleh pemerintah dapat menjadi modal ekonomi langsung kepada masyarakat yang dapat menjaga stabilitas perekonomian di Papua Barat.

Untuk sektor pertambangan dan penggalian, Adi mengatakan, BI, belum memasukkannya dalam faktor pertumbuhan ekonomi karena belum memiliki informasi lengkap. |DUMA SANDA