Pembukaan diseminasi hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Papua Barat di sebuah hotel di Manokwari, Rabu.

Fasilitas wisata religi Pulau Mansinam mulai rusak

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat mengkaji rencana pengembangan wisata religi Pulau Mansinam di Kabupaten Manokwari.

Kepala Balitbangda Papua Barat Charlie Heatubun di Manokwari, Rabu, mengatakan pembangunan spiritual di Tanah Papua tidak terlepas dari keberadaan Pulau Mansinam. Pulau yang berada tak jauh dari jantung kota Manokwari ini merupakan saksi sejarah peradaban di tanah Papua.

“Pulau Mansinam adalah tempat pendaratan pertama Injil di Tanah Papua yang dibawa oleh dua orang Missionaris asal Belanda dan Jerman yakni Carl William Ottow dan Johan Gottlob Geissler,” kata Charlie dalam pertemuan diseminasi hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Papua Barat di sebuah hotel, Rabu.

Pemerintah pusat, kata dia, telah memulai pembangunan di pulau tersebut, antara lain jalan, jembatan, serta fasilitas lain dibidang pendidikan, kesehatan dan perumahan warga setempat.

Belum lama ini, pemerintah pusat melalui PLN membangun sarana pendukung untuk mencukupi kebutuhan listrik di pulau tersebut. Layanan listrik di pulau ini sudah berlangsung selama 24 jam nonstop.

“Namun apa yang diharapkan dalam pembangunan ini belum terwujud. Belum nampak adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat, ini yang melatar belakangi penelitian dan kajian yang kami lakukan,”katanya.

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, kata dia, menginginkan agar pulau tersebut dikelola maksimal melalui konsep pengembangan pariwisata. Dengan demikian, ada multiplayer efek yang dirasakan masyarakat yang mendiami pulau.

Sesuai hasil penelitian, sejumlah fasilitas di lokasi tersebut mulai rusak dan secara keseluruhan aset-aset berharga pulau ini tidak terurus secara baik.

Disisi lain, lanjutnya, masih ada sejumlah fasilitas yang belum dibangun. Fasilitas ini, dinilai memiliki peran strategis secara sosial dan budaya.

Dia menambahkan, dari hasil kajian yang dilakukan pihaknya menemukan beberapa akar persoalan pengelolaan pulau ini.

“Kami pun mengambil keterangan dari para pengunjung. Dari sample yang kami ambil 50 persen diantaranya merasa tidak puas dengan kinerja atau layanan yang tidak tersedia karena fasilitas tidak bisa diakses serta banyak yang rusak,” ungkapnya lagi.

Pihaknya telah merumuskan beberapa rekomendasi diantaranya mendorong penyusunan rancangan peraturan daerah provinsi (Perdasi) atau peraturan daerah khusus (Perdasus) tentang pengelolaan situs Pulau Mansinam. (ibn)

Leave a Reply

%d bloggers like this: