Ferdinan Waropen bersama Sang Isteri Ester Yoteni.
Ferdinan Waropen bersama Sang Isteri Ester Yoteni.

Ferdinan Waropen, Karya dan Jejaknya Setengah Abad Memberitakan Injil

Panggilan sebagai pelayan Tuhan membulatkan tekadnya untuk menjelajahi belantara di pedalaman terpencil Udik Wosimi – sekarang distrik Naikere. Dia rela memberikan dirinya, keluarganya bahkan hidupnya untuk sebuah tugas mulia menggembalakan manusia dari kegelapan menuju terang sejati.  Selama 50 tahun dia memikul tugas sebagai Penginjil dengan tulus  dan setia tanpa pernah mengeluh.

Oleh : Zack Tonu Bala

FERDINAN Waropen memulai karyanya sebagai Penginjil pada zaman zending, sebelum Papua resmi bergabung dengan Republik Indonesia. Tugas pengembalaannya diawali sebagai Guru Injil pada 1955 di jemaat Petrus Dotir.

Selama 10 tahun bertugas di Dotir, Bapa Waropen, demikian panggilan karibnya, bersama seorang temannya sesama Penginjil menginisiasi pendirian sekolah peradaban, setingkat sekolah dasar – untuk memberikan pendidikan kepada warga jemaat di Dotir dan Rakwa (sekarang Rado).

Setelah menempuh studi di sekolah penginjil Laharoi di Ransiki selama 2 tahun lamanya, pada 1967 dia kemudian ditugaskan oleh resor Wondama (sekarang Klasis Wondama) untuk menjadi guru Injil di pedalaman Udik Wosimi, wilayah yang sekarang dikenal dengan distrik Naikere.

Dia merupakan orang ke-4 yang mengabdikan diri untuk memberitakan Injil di wilayah yang masih terisolir tersebut. Bapa Waropen meneruskan perjuangan yang telah dirintis sebelumnya oleh Karel Yoteni sejak 1920 kemudian disusul Petrus Yoteni dan berikutnya Alexander Samberi.

Bapa Waropen adalah Penginjil yang paling lama bertugas di Udik Wosimi. Dia berkarya selama 30 tahun. Didampingi sang isteri tercinta Esterlina Yoteni, ia dengan setia dan tak pernah putus asa mewartakan Kebenaran Firman Tuhan kepada masyarakat setempat yang belum mengenal agama.

Tugas pertamanya di Udik Wosimo adalah menjadi Guru Injil untuk Suku Toro, salah satu suku asli setempat. Wilayah kerjanya meliputi tiga kampung yakni Undurara, Urere dan Toro.  Berkat kegigihan dan semangat pantang menyerah, hanya berselang dua tahun, benih-benih Injil yang ditaburnya di tanah yang ketika itu masih antah berantah mulai berbuah.

Dia berhasil mengumpulkan warga setempat yang masih hidup nomaden alias berpindah-pindah dalam satu jemaat gereja yang diberi nama Jemaat Alam Bika Sararti. Jemaat pertama di wilayah Udik Wosimo itu ditahbiskan oleh utusan resor Wondama pada 25 Desember 1969.

Waropen menyadari Injil yang diberitakan tidak akan pernah bisa berbuah dan bisa berkembang biak jika masyarakat setempat tidak mengenal pendidikan. Maka dari itu, setahun sebelum gereja pertama itu diresmikan, ia bersama rekannya Bapa Wiayai yang seorang guru membuka sekolah  di wilayah Udik Wosimo.

Sekolah tersebut merupakan sekolah formal pertama dalam sejarah perkembangan wilayah yang berada di bagian barat Kabupaten Teluk Wondama itu. Namun ‘keberhasilan’ itu tidak diperoleh dengan mudah. Berbagai kesulitan dan tantangan besar harus dia lewati.

Bapa Waropen harus berjalan kali naik turun gunung dan bukit, menyusuri hutan dan lembah yang belum pernah dikenalnya sama sekali. Dia harus berkelana untuk mencari masyarakat setempat yang hidupnya berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya bahkan hingga tapal batas dengan kabupaten Kaimana dan Nabire.

“Tantangan yang paling berat adalah menghadapi itu (keterisolasian wilayah). Dalam 30 tahun kami tidak pernah menetap pada satu titik. Berpindah terus mengikuti pola hidup mereka. Bapa bisa menyusuri gunung dan lembah hingga puluhan kilo meter, “ jelas Amos Waropen, anak tertua dari Ferdinan Waropen di kediaman mereka di Masabuai, Wasior, baru-baru ini.

Suami Esterlina Yoteni ini menghadapi semua tantangan itu dengan tabah. Ia tak mau menyerah meski medan tugas yang membentang di hadapannya sangatlah berat. Ia percaya dengan teguh bahwa dalam nama Tuhan tak ada yang mustahil.

Dukungan kuat dari sang isteri dan anak-anak  membuat kakinya tetap kuat untuk terus melangkah.

“Ibu setia mendampingi bapak. Ibu berprinsip bahwa apapun sukar dan sulitnya semua akan menjadi ringan jika mengandalkan Tuhan. “kata Amos yang mewakili sang Ayah yang kini sudah tidak bisa mendengar dengan baik. Sementara sang ibu sudah tidak bisa melihat dengan jelas.


Tolak jadi PNS

Ibu Ester Yoteni memang memiliki hubungan darah dengan suku asli di Udik Wosimo. Dia juga mengerti bahasa lokal setempat. “Marga Yoteni punya hubungan darah dengan mereka di Udik. Ini yang menjadi kekuatan untuk bisa menerobos wilayah di sana, “papar Amos.

“Ini juga jadi dasar untuk bapak dan mama untuk bertahan selama 30 tahun karena hubungan kekeluargaan yang erat. Sehingga kami bisa bersahabat dan mampu menahan semua jeritan dan kesulitan pada masa tugas ketika itu,  “ lanjut Amos yang juga tumbuh dan besar di pedalaman Naikere.

Keteguhan Bapa Waropen terhadap tugas panggilannya dia buktikan dengan menolak tawaran menjadi pegawai negeri sipil. Ketika masih bertugas di Udik Wosimo, ia bersama sejumlah rekan gurunya mendapat tawaran menjadi PNS secara cuma-cuma dari Pemerintah Republik Indonesia.

Namun ia tak mengambil kesempatan itu. Dia memilih tetap setia pada tugasnya sebagai seorang gembala meskipun gaji yang diterimanya ketika itu hanya sebesar Rp.25 ribu/bulan.

“Waktu itu bapak hanya kasih jawaban yang singkat, bapak jawab begini, biar sudah teman-teman lain dong yang jadi PNS sudah, biar bapak pikul salib sampai mati, “ sambung Tomas Waropen, anak laki-laki ke-4 pasangan Waropen dan Ester.

Ferdinan Waropen merupakan sosok Penginjil yang setia. Dia telah menjalankan tugasnya sebagai Penginjil sekaligus sebagai seorang pendidik selama setengah abad. Yakni 30 tahun di Udik Wosimo dan 20 tahun untuk wilayah pesisir dan pulau.

Ia mengakhiri tugasnya sebagai Guru Injil pada 2 Mei 2005 di jemaat GKI Kasih Rawaudo klasis Nabire. Dia memang pensiun dari tugas itu namun semangatnya untuk bekerja di ladang Tuhan tak pernah padam walaupun usianya kini sudah menapak senja. Ini menjadi teladan hidup yang patut ditiru oleh generasi muda Kristen di Teluk Wondama

“Semangat beliau sungguh luar biasa. Sekarang sudah jarang sekali ditemukan semangat dan kesetian seperti ini, “ kata Rosalie Wamafma, Pendeta Kepala Jemaat Betania Waskam.

Pada momentum perayaan Hari Jadi Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua ke-60, 26 Oktober 2016, Ferdinan Waropen yang kini berusia 86 tahun bersama sang isteri Ester Yoteni yang berusia 82 tahun berharap apa yang telah mereka rintis tetap dilanjutkan dan dikembangkan demi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

“Pesan bapa dan mama untuk generasi sekarang dan generasi di masa datang agar harus memelihara lilin (terang Injil) di pegunungan sehingga tidak boleh padam. Karena hari ini kalau kita mau jujur, kepada merekalah pemberitaan Injil itu harus diberitakan, “ tutup Amos Waropen. ***

 

Tinggalkan Balasan