Ilustrasi, Kerukunan Antar Umat Beragama.

FKUB dan Para Pihak Sepakati Penundaan Pembangunan Masjid Andai

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com — Pembangunan sebuah masjid di Kelurahan Andai, Distrik Manokwari Selatan, terletak tak jauh dari kantor Badan Diklat Papua Barat, Arfai, ditunda hingga mengantongi sejumlah ijin mengacu pada Peraturan Bersama Menteri Menteri Agama dan Mendagri tahun 2006.

Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan selama 4 jam yang diikuti Forum Kerukunan Umat Beragama, tokoh agama, adat, dan masyarakat yang difasilitasi Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Royke Lumowa, kemarin.

Tokoh masyarakat, Obed Arik Ayok, mengatakan, pertemuan juga menyepakati bahwa pembangunan masjid setidaknya harus mengantongi persetujuan dari 90 warga muslim dan 60 non muslim yang bermukim di sekitar daerah tersebut.

“Jadi tadi kapolda minta supaya pekerjaan itu dihentikan dulu sampai mengantongi surat ijin dari pemerintah maupun departeman agama,” tambah Obed usai mengikuti pertemuan.

Obed berharap agar kedepan warga Manokwari dapat menjalin kerjasama dan kebersamaan dengan baik demi menjaga kenyamanan daerah ini.
Sementara itu, anggota DPR Papua Barat, Muhammad Sanusi Rahaningmas, secara terpisah, mengatakan, pertemuan tersebut merupakan langkah awal yang baik untuk menepis keresahan warga.

Ia meminta semua pihak menahan diri dan tidak terprovokasi sambil menunggu semua persyaratan dan ijin pembangunan masjid di kantongi penanggunjawab pembangunan masjid.

“Kita semua tahu bahwa pembangunan sebuah rumah ibadah itu harus melalui prosedur. Karena itu saya berharap pembangun semua tempat ibadah harus sesuai SKB Menteri,” ujarnya.

Sanusi juga berpesan agar jangan ada lagi intimidasi dari pihak manapun terkait pembangunan masjid tersebut melainkan menunggu jawaban pemerintah daerah dan FKUB Papua Barat.

Kamis pekan lalu sekelompok massa menggelar aksi penolakan pembangunan masjid di Andai, tepatnya di samping gedung Badan Diklat Provinsi Papua Barat di Kelurahan Andai, Distrik Manokwari Selatan. Massa yang berjumlah kurang lebih 70 orang itu mendatangi lokasi pembangunan dan menyatakan keberatan atas pendirian rumah ibadah umat Islam tersebut.

Sanusi menilai penolakan tersebut terjadi karena kurangnya komunikasi antar pihak. Untuk itu ia berharap setiap elemen tidak terprovokasi dengan isu-isu yang tidak bertanggungjawab. |ADITH SETYAWAN