Hermianus Saiba.

MANOKWARI, Cahayapapua.com— “Dorang su tau sa pu otak ini, sa yang tukang palang-palang kantor MRPB selama ini , jadi jang main-main dengan sa.”

Hal ini ditegaskan Hermianus Saiba, Anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) Papua Barat periode 2011_2016 usai dirinnya  gagal menjadi anggota MRP PB kedua kali.

Bertandang ke kantor Cahaya Papua, kemarin (21/11), Hermianus Saiba yang mencalonkan  diri sebagai calon anggota MRPB periode  2017-2022 lewat perwakilan  unsur agama dari Kabupaten Pegunungan Arfak, mengaku dirinya sangat kecewa dengan putusan panitia seleksi yang tidak mengakomodir dirinya kembali menjadi anggota MRPB.

Alasan kekecewaannya karena calon yang terpilih bukan anak asli Arfak. “Dari suku lain tapi mendaftar lewat Kabupaten Pegunungan Arfak, sama saja merampas hak kami sebagai warga asli Arfak, jangan samakan dengan Kabupaten Manokwari, disini ada banyak suku yang berdomisili,” kesal Hermianus Saiba.

Selain itu menurut Hermianus mayoritas warga pegunungan Arfak dari Gereja Persekutuan Kristen Injili ( GPKAI) , jadi seharusnya yang menjadi calon terpilih juga berasal dari gereja yang sama.

Seperti calon sebelumnya yang gagal menjadi anggota MRPB, Hermianus Saiba juga meminta penjelasan dari gubernur Papua Barat. Dirinya memberi batas waktu kepada gubernur sampai tanggal 24 November 2017.

“Kalau sampai batas tersebut, bapak gubernur tidak jawab, saya akan turunkan massa duduki kantor MRPB dan palang kantor itu,” ancam Hermianus.

Hermianus mengaku tidak meminta banyak dari gubernur Papua Barat. Dirinya hanya meminta imbalan jasanya yang juga ikut memperjuangkan aspirasi pemekaran Pegunungan Arfak dan Manokwari selatan saat dirinya masih menjabat sebagai anggota MRPB periode 2011_2016. “Imbalan jasa yang saya minta bisa berupa uang, juga bisa berupa barang,” sipu Hermianus.

Terakhir dirinya juga meminta gubernur mengakomodir namanya pada pemilihan anggota DPR Papua Barat jalur Otsus tahun 2019 mendatang. (cr-79)

 

Leave a Reply