Galang Dana untuk Banjarnegara di Manokwari, Otto Justru Diusir dan Terancam Dipolisikan

Otto Mayor

Otto Mayor

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com-Salah satu warga kota Manokwari Otto Mayor yang sehari-hari beroperasi sebagai tukang ojek saat melakukan aksi pengalangan dana untuk korban tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, harus dihentikan aksinya oleh mahasiswa.

Otto Mayor semula melakukan aksi bersama puluhan mahasiswa di lampu merah Haji Bauw. Tetapi dilarang oleh mahasiswa yang juga mengalang dana. Setelah dilarang, Otto kembali melanjutkan aksinya di lampu merah Dialer Sinar Suri.

Takut aksinya berujung pada kasus penipuan, beberapa mahasiswa kembali mendatanginya dan memaksa menghentikan aksinya.

Perdebatan yang terjadi sempat mengundang tontonan warga dan pengendaran yang melintas di area tersebut. Setelah diancam akan dilaporkan kepada pihak berwajib Otto lekas meninggalkan tempat tersebut.

Otto Mayor saat bertandang ke redaksi Cahaya Papua mengatakan, aksi yang dilalukannya murni sebagai bentuk kepeduliannya karena pernah hidup puluhan tahun di Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Salatiga.

“Saya 24 tahun hidup di Salatiga, jadi saya juga peduli dengan saudara-saudara saya yang terkena bencana di sana, tapi kok aksi saya dihentikan dan harus diusir dan diancam akan dilaporkan ke polisi, emangnya saya salah apa,” ujarnya dengan wajah Sedih.

Otto menambahkan, aksi ini merupakan bentuk kepeduliannya sebagai manusia, ditambah wanita yang dinikahinya berasal dari Jawa Tengah.

“Istri saya orang Jawa Tengah dan sebelum melakukan aksi ini saya sudah ijin kepada istri saya, karena saya bagian dari warga Jawa tengah. Saya pernah hidup dan dibesarkan disana, masa saya tidak boleh membantu saudara saya,” jelasnya.

Menurut Otto, sebagai kaum intelektual mahasiswa harusnya tidak melakukan hal seperti itu kepada dirinya. Karena uang yang didapati akan diserahkan semua kepada para mahasiswa tersebut dalam membantu korban bencana alam.

“Saya kecewa karena mereka mahasiswa adalah kaum intelektual tetapi kok mereka seperti itu, uang ini akan saya berikan kepada mereka jika sudah selesai, saya diancam akan dilaporkan kepada polisi, saya tidak marah tetapi saya malu karena orang-orang akan berpikir saya ini preman atau apa,” tegasnya.

Otto berjanji uang yang dikumpulnya akan diserahkan kembali kepada mahasiswa, setelah para mahasiswa mau mendengkarkan penjelasnya.

Ditempat teepisah Ketua Pelita (Pelajar Islam Pencinta Alam), Wahyu saat dikonfrimasi Cahaya Papua melalui via ponsel menceritakan, semula Otto meminta untuk ikut melakukan penggalangan dana, tetapi mahasiswa memberikan Otto tugas sebagai pemegang spanduk.

“Kan mau bantu, ya kami bilang kalo mau bantu bapak pegang spanduk saja, bukan pegang uang, nah kemudian dia pergi dan melanjutkan aksinya di lampu merah Sinar Suri, kita ke sana dan tegur dia, tapi dia tetap tidak mau. Setelah kita ancam mau lapor polisi barulah dia pergi,” jelasnya.

Menurut Wahyu, larangan itu dilakukan, karena Otto bukanlah mengatasnamakan mahasiswa atau OKP yang menggelar aksi.

Namun ancaman tersebut tidak sampai dipihak berwajib setelah para mahasiswa menghentikan aksinya pada siang hari dan mengecek kembali keberadaan Otto dalam aksinya.|ADITH SETYAWAN

 

Tinggalkan Balasan