BP Tangguh Bintuni, Papua Barat. | Dokumentasi CAHAYAPAPUA.com

Gas Tangguh Juga Dipasok untuk Kebutuhan Domestik

TELUK BINTUNI, CAHAYA PAPUA.com— Proyek ekspansi Tangguh Train 3 di Papua Barat yang merupakan kelanjutan dari kemitraan antara BP dengan pemerintah Indonesia diproyeksi menambah produksi LNG sebesar 3,8 juta ton per tahun. Proyek ini juga akan menopang pemenuhan permintaan energi di Indonesia dan Asia, sebab 40 persen produksi dari train 3 menyasar pasar domestik.

“Sejauh ini ada beberapa kemajuan dari proyek ekspansi Tangguh Train 3, diantaranya, persetujuan AMDAL pada Juli 2014; perjanjian jual beli dengan PLN yang ditandatangani pada 17 Oktober lalu; dan, kontrakDual FEED Onshore yang diumumkan pada 22 Oktober lalu,” jelas Tantri Yuliandini, Senior Communication Officer BP, kepada CAHAYAPAPUA.com, Jumat (28/11) pekan lalu di Site Tangguh LNG, Distrik Babo, Teluk Bintuni.

Train 3 adalah kilang ketiga Tangguh LNG yang merupakan ekspansi dari 2 kilang yang sudah ada sebelumnya di site Tangguh, Babo. Kilang ketiga ini dibangun karena cadagan gas dinilai cukup untuk memenuhinya. Kilang ketiga akan dibangun tak jauh dari samping train 1 dan 2.

Selain itu akan dibangun infrastruktur pendukung berupa 2 anjungan baru di lepas pantai. Anjungan ini berfungsi untuk memasok gas ke kilang ketiga. Konstruksi kilang ke 3 rencananya akan dimulai pada tahun 2015 dan berlangsung hingga peresmian kilang ketiga di tahun 2019.

Site Manager Tangguh LNG, Refrizal Bustaman mengatakan, sebenarnya, tak ada kewajiban bagi BP untuk menyalurkan LNG ke pasar domestik. “Ini kesukarelaan karena BP menyadari pentingnya upaya pemenuhan itu,” katanya saat berbicara kepada wartawan, aktivis lembaga swadaya masyarakat dan pengamat dari Komnas HAM Papua yang diundang mengamati latihan gabungan pengamanan fasilitas Tangguh LNG di Babo, akhir pekan lalu.

Meski penjualan domestik ini disebut Refrizal sebagai “kesukarelaan”, namun Panel Penasihat Independen Tangguh atau Tangguh Independent Advisory Panel (TIAP) tahun ini dalam laporannya menyebut bahwa hal itu dapat dilakukan karena adanya ketentuan pengalihan dalam kesepakatan penjualan dengan Sempra.

Selain bermanfaat bagi Indonesia yang tengah mencari pasokan gas untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak, penjualan tersebut juga menjawab kritik politis yang menuduh bahwa Tangguh hanya menguntungkan kepentingan asing. |PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

 

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan