Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warnussy, saat menerima puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (Gempar) Manokwari, yang menyerahkan bukti dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia di Tanah Papua, Jumat (10/11/2017).

Gempar serahkan bukti dugaan pelanggaran HAM ke LP3BH

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Manokwari yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (Gempar) Manokwari, menyerahkan  bukti dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Papua, kepada Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari.

Puluhan mahasiswa tersebut, menyerahkan laporan dugaan pelanggaran HAM berat terkait peristiwa kematian empat tokoh Papua. Diantaranya, Arnold C.Ap, BA (1984), DR. Thomas Wapai Wanggay, (1996), They Hiyo eluay (2001) dan Mako Tabuni (2013).

Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warnussy, yang menerima laporan dengan didampingi oleh Agus Sumule selaku Ketua Badan Pengurus LP3BH Manokwari

Mengapresiasi atas keberanian Gempar untuk mengadukan secara resmi dugaan pelanggaran HAM yang berat tersebut.

“LP3BH sendiri, telah merespon advokasi HAM di tingkat Internasional diplomat Solomon Island Barret Salato pada sesi ke-36 pertemuan ke-18 Dewan HAM Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss pada tanggal 19 September 2017 yang lalu. Dan kami mengapresiasi Gempar atas laporan ini, tentu laporan ini akan kami teruskan dan perjuangkan,” ujar Warinussy, Jumat (10/11/2017)

Dikatakan, dalam menyampaikan pandangan negaranya, Solomon Island (Kepulaua Solomon), Salato mengusulkan agar PBB memfasilitasi diselenggarakannya dialog konstruktif antara Indonesia dan Orang Asli Papua (OAP), guna membicarakan penyelesaian pelanggaran HAM yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun di Tanah Papua.

“Usulan ini lah yang dipandang oleh LP3BH perlu direspon segera oleh seluruh elemen perjuangan penegakan hukum dan HAM di Tanah Papua untuk mengumpulkan data mengenai kasus dugaan pelanggaran HAM sepanjang lebih dari 50 tahun. Untuk itu, lanjut dia, LP3BH mengambil langkah membuka pos pengaduan dugaan pelanggaran HAM di Tanah Papua,” cetusnya.

Sementara itu, Agus Sumule selaku Ketua Badan Pengurus LP3BH Manokwari mengatakan, bahwa LP3BH tentu akan menggunakan laporan para mahasiswa ini sebagai data dan akan dikaji serta diverifikasi secara mendalam sesuai metode investigasi HAM, guna melahirkan laporan yang dapat digunakan dalam mendukung advokasi di tingkat internasional dan nasional. (tnj)

Tinggalkan Balasan