Kumpulan Cerpen Manokwari

Gerakan Literasi: Inisiatif Tumbuh, Dukungan Minim

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com —– Inisiatif masyarakat untuk mendorong peningkatan minat baca lewat beragam organisasi dan kegiatan literasi terus tumbuh di Manokwari.  Momentum ini seharusnya dilirik oleh pemerintah dan pemangku kepentingan dalam upaya mempercepat terwujudnya masyarakat yang berbudaya baca tinggi.

Ketua Komunitas Suka Membaca (KSM) Manokwari—salah satu organisasi gerakan literasi yang mengelola perpustakaan komunitas di Amban, Manokwari– David Pasaribu mengatakan, sejauh ini bentuk perhatian, terutama dari sisi anggaran baru ditunjukkan oleh pemerintah pusat.

“Pada pemerintahaan sebelumnya, ada bantuan block grant dari pemerintah pusat yang langsung disalurkan ke komunitas. Komposisinya, 75 persen dialokasikan untuk pengadaan buku, selebihnya untuk kegiatan. Meski membantu tapi untuk membiayai semua hal yang seharusnya dilakukan, jumlahnya tentu saja kurang,” katanya, Jumat (24/4/2015).

Akibat minimnya dukungan anggaran, komunitas ini hanya terbatas bergerak pada ranah pelayanan dasar, misalnya dengan membuka fasilitas perpustakaan. Pengunjungnya rata-rata adalah anggota komunitas yang didominasi kaum muda. KSM Manokwari, menyediakan 900-an lebih judul buku di perpustaakan yang mereka kelola secara swadaya.

Dalam beberapa kesempatan, komunitas ini menggelar berbagai kegiatan bekerjasama dengan perpustakaan daerah Manokwari dan sejumlah lembaga lain. Selain mendorong budaya baca, KSM juga mengembangkan kapasitas anggotanya untuk menulis. KSM sukses menelurkan sejumlah penulis muda Manokwari dan menerbitkan sebuah kumpulan cerita pendek dalam sebuah buku berjudul “Impian di Tepi Bakaro”.

Komunitas baca lainnya di Manokwari yang bergerak tanpa dukungan memadai dari pemerintah adalah Forum Kajian Az-Zahra Manokwari (Forkizaman). Dikelola oleh sejumlah mahasiswa, lembaga ini mengelola perpustakaan komunitas berbasis literatur pemikiran islam.

Koordinator Forkizaman, Toyiban, mengatakan, lembaga yang dipimpinnya sejauh ini hanya mendapat bantuan pasokan ratusan buku  secara bertahap dari Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta. “Yang berkunjung sebatas para anggota, kami menggelar diskusi dan bedah buku sebagai kegiatan utama di komunitas,” katanya.

Menurut David Pasaribu, dukungan pemerintah terhadap komunitas literasi yang tumbuh secara organik atas dasar inisiatif dan keswadayaan warga sangat penting dalam upaya mendorong minat baca masyarakat. “Kalau pemerintah merasa ini berguna, sebaiknya diprioritaskan juga,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah dan TK Kabupaten Manokwari, Suprianto menyatakan bahwa Kabupaten Manokwari menduduki peringkat ke-3 se-Papua Barat pada kasus buta aksara.  Mereka yang terpapar buta aksara untuk usia 15-59 tahun di ibukota Papua Barat ini tercatat sebanyak 4.089 warga.

“Tidak semua angka ini mengalami buta aksara. Yang dimaksud buta aksara bukan hanya mereka yang tak mengenal membaca dan menulis melainkan ada yang disebut dengan buta aksara literi, yaitu yang tidak bisa berbahasa dengan baik dan beberapa kategori lainnya,” jelas Suprianto.

Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Ilmu pengetahuan dan Kebudayaan PBB, Irinia Bokova dalam siaran persnya yang dikutip harian Kompas mengatakan, kekuatan buku untuk mengubah masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik perlu terus dipromosikan. Kehadiran buku sebagai bagian dari aktivitas membaca, menulis dan belajar, tidak dapat dipisahkan dari upaya pembangunan masyarakat inklusif dan berkesinambungan.

“Literasi merupakan pintu pengetahuan yang penting dalam pemberdayaan individu,” katanya menyambut Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia yang jatuh pada 23 April.  |PATRIX TANDIRERUNG