Ilustrasi penolakan kenaikan harga BBM. | Ist

Gila! Harga BBM di Pedalaman Papua Barat 250 Ribu Per Liter

MANOKWARI- Harga bensin di distrik Moskona Timur dan Moskona Utara kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, mencapai 250 ribu per liter. Ini barangkali menjadi pemecah rekor terbaru untuk kategori harga bensin termahal di Indonesia.

Kepala Distrik Moskona Timur, Kabupaten Teluk Bintuni, Jandri Salakory, Rabu (14/1/2015), mengatakan, situasi ini sudah cukup lama terjadi di wilayah kerjanya. Hal ini terjadi akibat sulitnya akses transportasi menuju kedua distrik tersebut.

Tak hanya bensin, harga barang-barang lainnya di dua distrik inipun melambung tak terjangkau. Gula pasir misalnya, jika di daerah lain masyarakat bisa membeli gula pasir antara 10-20 ribu per kilo gram, di sana masyarakat harus mengeluarkan uang sebesar 150 ribu untuk mendapat gula pasir per kilo gram.

Meski diakui memberatkan masyarakat, namun ia menilai hal itu wajar sebab biaya yang harus dikeluarkan untuk mengangkut barang ke kedua distrik itu sangat mahal.

“Hanya pesawat, satu-satunya transportasi yang bisa menembus Moskona Timur dan Moskona Utara. Selain itu tidak semua jenis pesawat bisa mendarat di bandar udara Moskona utara dan Moskona Timur,” sebutnya di Manokwari.

Dikatakan, ongkos carter pesawat pulang pergi ke kedua distrik tersebut antara Rp. 85 hingga 160 juta. Rp. 85 juta untuk pesawat pilatus dan Rp. 160 untuk helikopter. Harga ongkos carter pesawat ini sangat bergantung pada naik turunnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar. “Sewaktu-waktu bisa naik dan turun,” ujarnya.

Akses pesawat menuju kedua distrik tersebut saat ini hanya dapat dilakukan dari Manokwari dan Sorong.

Untuk membantu masyarakat, pemerintah kabupaten Teluk Bintuni pada tahun 2014 lalu memberikan subsidi sebesar Rp. 4 miliar untuk perjalanan pesawat di dua distrik tersebut. Masing-masing mendapat jatah 50 penerbangan pada tahun 2014 lalu.

Dari sisi transportasi, kedua distrik ini paling sulit dan mahal dibanding distrik lain di kabupaten tersebut. Saat ini belum ada transportasi darat yang dapat penembus dua distrik itu kecuali dengan berjalan kaki yang memakan waktu 3 hingga 4 hari dari ibukota kabupaten.

Untuk itu, perlu ada pembukaan lahan untuk pembangunan jalan dan jembatan agar akses transportasi menuju dua distrik tersebut mudah dijangkau oleh masyarakat. |TOYIBAN

Tinggalkan Balasan