Edward Mandacan (5 tahun), diduga menderita gizi buruk terbaring lemas di rumahnya, Kampung Sairo, Distrik Manokwari Utara (Pantura). Adlu Raharusun/Cahaya Papua

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Seorang bocah berumur lima tahun, Edward Mandacan, diduga mengalami gizi buruk di pinggiran kota Manokwari tepatnya di Kampung Sairo, Distrik Manokwari Utara.

Bocah tak berdosa itu, sepanjang hari hanya terbaring lemas di atas selembar karpet berukuran satu meter pada lantai semen. Kondisi tubuhnya terlihat kurus, bahkan kaki, tangan, leher terlihat nyata terbungkus kulitnya yang nampak pucat.

“Edward adalah anak kedua. Saya punya anak pertama, Ronald (6 tahun) juga mengalami kondisi yang sama seperti adiknya. Dia sudah meninggal Februari 2017 lalu dan di kuburkan dekat Kali Mapi,” kisah mamanya Eremina Bebari, membuka pembicaraan sambil berurai air mata kepada Cahaya Papua, Selasa (20/2).

Mirip dengan anak pertamanya, kondisi fisik Edward menurun drastis pada usia tiga bulan. Eremina (22) mengaku pernah membawa anaknya ke RSUD Manokwari tahun 2015 dan diagnosa dokter mengalami gizi buruk. Selama enam hari menjalani perawatan medis di RSUD  karena gizi buruk, akhirnya Edward dibawa pulang karena alasan ekonomi.

“Saat dibawa pulang, Edward belum sembuh betul. Selang beberapa hari, kita bawa periksa ke Puskesmas Amban. Kotoran besar (tinjanya, red) diambil untuk di uji laboratorium di Surabaya. Hasilnya, mantri yang periksa saat itu dikatakan tidak menemukan penyakit,” kenang Eremina.

Beban Eremina merawat Edward cukup berat. Beban itu semakin berat ketika suaminya mendekam di Lapas Manokwari karena kasus kriminal. “Tahun 2016 akhir suami saya ditangkap polisi, dan sekarang masih di tahanan untuk mempertangungjawabkan perbuatannya,” ujarnya.

Di Kampung Sairo, Eremina menetap bersama mama kandungnya, dua saudari perempuan dan seorang saudara laki – laki.  Di keluarga tersebut, untuk kebutuhan hidup sehari – hari hanya mengandalkan penghasilan dari saudara lelakinya yang bekerja sebagai buruh angkut pasir.

“Setiap kali ada truk angkut material pasir di Pantura. Saudara laki – laki saya bantu biar dapat uang untuk mencukupi kebutuhan hidup kami sehari –hari. Jika rejeki lebih, saya bantu jual pinang yang penghasilannya untuk beli susu buat Edward,” akunya.

Satu harapan Eremina, Pemda Manokwari dalam hal ini instansi terkait dapat memberikan bantuan serta dukungan, sehingga anaknya dapat sembuh dari penyakit yang kini dideritanya.

Terpisah, Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan saat dikonfirmasi soal kasus gizi buruk di wilayah pemerintahannya, nampak serius menanggapi persoalan tersebut.

“Iya saya pastikan lokasi dan siapa orang tuanya agar kita besok (hari ini, red) turunkan tim medis kesehatan,” tulis Bupati Demas Paulus Mandacan via Whatsapp, Selasa (20/2).

Tidak jauh beda dengan Kepala Dinas Kesehatan Manokwari Hendri Sembiring. Dia pun meminta lokasi dan tempat tinggal penderita gizi buruk, dan berjanji akan mengutus kepala bidang gizi dan stafnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari Akhir Januari 2018 lalu mengklaim tidak menemukan kasus gizi buruk di Manokwari. Kepala Dinas Kesehatan Manokwari, Henri Sembiring mengatakan gizi buruk berpotensi terjadi jika penderita tidak melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara rutin atau kurang teratur di  Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu).

“Gizi buruk mungkin dikarenakan kurang rajin ke Posyandu. Kita di sini (Manokwari,red.) sudah lumayan, sebab Posyandu tersebar hampir merata di semua distrik,” ucapnya.

Dia mengatakan di Manokwari terdapat 130 Posyandu yang sebagian besar ditangani Puskemas Sanggeng. Alasannya karena Sanggeng merupakan salah satu titik terpadat di Manokwari.

Dia juga mengatakan pencegahan gizi buruk dilakukan melalui program pembagian asupan tambahan kepada balita dan ibu hamil berupa susu, kacang hijau, dan asupan lainnya yang dibagikan melalui Posyandu. Asupan tambahan itu merupakan program Kementerian Kesehatan. |Adlu Raharusun | Safwan Ashari Raharusun

Leave a Reply