Foto Bersama Ketua KPU Teluk Wondama R. Gayus Baibaba bersama Kapolres AKBP Frits Sokoy, ketua Panwaslu Epianus Rawar dan para Saksi Paslon usai Pleno Rekapitulasi Suara Pilgub

Golput Pilgub Capai 41 Persen, KPU Wondama Sebut Tanggung Jawab Bersama

WASIOR, Cahayapapua.com— Partisipasi pemilih di Kabupaten Teluk Wondama pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat 2017 hanya sebesar 58,07 persen. Ini artinya 41,93 persen atau sebanyak 9.684 pemilih atau dari total pemilih yang masuk dalam DPT Pilkada gubernur dan wakil gubernur Papua Barat di Kabupaten Teluk Wondama yakni 24.210 tidak menggunakan hak suara alias Golput pada 15 Februari lalu.

Angka Golput yang mencapai 41 persen menjadi catatan buruk dalam sejarah penyelenggaraan pemilu di Kabupaten Teluk Wondama. KPU Teluk Wondama menyebut rendahnya partisipasi pemilih dalam Pilgub 2017 menjadi catatan yang tidak mengenakkan sekaligus memprihatinkan dalam penyelenggaraan pemilu kali ini.

Pasalnya jika dibandingkan dengan Pilkada bupati dan wakil bupati pada 2015 lalu, partisipasi pemilih dalam Pilgub kali ini merosot cukup tajam.  Pada Pilkada lalu, partisipasi pemilih pada saat itu mencapai 84 persen.

Meski demikian, KPU Teluk Wondama tidak merasa menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab terkait tingginya angka Golput dalam Pilgub 2017.

Ketua KPU Teluk Wondama Robert Gayus Baibaba dalam sambutannya sebelum menutup rapat pleno rekapitulasi perhitungan suara tingkat kabupaten, Kamis  (23/2) di gedung Amayora Miei menyatakan, masalah tersebut tidak dapat ditangani sendiri oleh KPU sebagai penyelenggara namun menjadi  tanggung jawab bersama berbagai pihak terkait.

“Ini bukan berarti kami mau mengelak dari persoalan ini. Namun rasa-rasanya kalau kami penyelenggara saja yang diserahkan tanggungjawab ini rasanya tidak adil. Karena dalam pemilu  ada peserta pemilu dan peserta pemilulah yang memiliki kepentingan paling besar, “ tandas Gayus.

Gayus menambahkan berdasarkan kajian ilmiah yang diperoleh, hal lain yang ikut mempengaruhi partisipasi warga dalam pemilu adalah perilaku pemilih, tingkat melek politik juga kesadaran warga terhadap pentingnya pemilu sebagai sarana untuk melahirkan pemimpin yang diinginkan masyarakat.

Karenanya kajian partisipasi pemilih perlu dilakukan sehingga dapat menemukan solusi untuk bisa meminimalisir angka Golput dalam pemilu.

“Bagi kami penyelenggara, pendekatan strategi pendidikan pemilih dan sosialisasi pemilu yang berorientasi pada kepentingan pemilih menjadi sebuah pekerjaan rumah yang harus terus dikerjakan guna mencapai angka partisipasi tinggi, “ pungkas Gayus.

Ketua tim pemenangan pasangan Dominggus Mandacan-Mohamad Lakotani Kabupaten Teluk Wondama Andarias Kayukatui berpandangan DPT yang tidak akurat menjadi salah satu penyebab tingginya angka Golput dalam Pilgub.

Karenanya dia berharap perlu ada evaluasi secara menyeluruh terhadap data pemilih agar DPT yang dihasilkan benar-benar sesuai kondisi rill yang ada di setiap wilayah.

“Tapi kita tidak salahkan KPU (saja), tapi memang kesadaran masyarakat memang masih rendah, “ ujar eks Kepala Dinas Sosial yang menjadi salah satu calon Bupati dalam Pilkada Teluk Wondama 2015. (BRV)

Tinggalkan Balasan