Paulus Meyej. | CAHAYAPAPUA.com | Toyiban

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com—- Disaat daerah lain dapat menikmati pelayanan pendidikan dengan mudah, rupanya hal itu tidak dapat dirasakan masyarakat yang tinggal di distrik Moskona Timur, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.

Di distrik ini, hanya ada 1 Sekolah Dasar (SD) yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Sekolah itu hanya terdapat 3 ruang yang harus dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar siswa, dari kelas 1 hingga kelas 6.

Selain itu, kondisi bangunan sekolah ini pun kini tak layak pakai. Gedung sekolah yang berdinding papan dan atap seng itu sudah mulai lapuk dan hancur akibat hujan dan panas.

Seorang pemuda distrik Moskona Timut, Paulus Meyej, Senin (4/5/2015) menuturkan, kondisi ini sudah lama terjadi.

Moskona Timur, merupakan salah satu distrik terjauh dan telisolir di kabupaten Teluk Bintuni. Hingga saat ini belum ada jalan tembus yang menghubungkan distrik ini dengan ibu kota kabupaten. Satu-satunya alat transportasi yang dapat menembus distrik ini hanya pesawat. “Satu kali naik, 300 ribu satu orang, jadi kalau pulang pergi harus siapkan uang 600 ribu,” sebutnya.

Paulus mengungkap, jarak distriknya dengan ibukota kabupaten cukup jauh. Saat ini baru ada jalan setapak yang bisa dilalui warga yang ingin datang ke ibu kota kabupaten, dengan jarak tempuh satu hari perjalanan.

Akibat kondisi ini, banyak warga di distrik tersebut yang hanya menuntaskan sekolahnya di bangku SD. ” Ada yang datang sekolah ke kota Bintuni dan Manokwari, namun mereka pun akhirnya memilih putus sekolah, karena orang tua kami tidak punya uang untuk biaya sekolah,” imbuh Paulus.

Minimnya alat transportasi dari dan menuju distrik tersebut, perdampak pula pada harga bahan pokok makanan serta Bahan Bakar Minyak.

Saat ini, harga Bensin di distrik ini 100 perliter, gula pasir antara 100-200 ribu/kg, minyak goreng 100 ribu/liter, beras satu karung berukuran 20 kg seharga 1 juta.

Didistrik ini tidak ada toko yang menjual bahan bangunan, sehingga masyarakat sejak dulu hingga sekarang, sebagian besar rumah warga berdinding papan dan peratap daun sagu.

Mahalnya ongkos transportasi ini pun mempersulit perkembangan warga dalam memperoleh penghasilan. Paulus menyebut, sebagian besar warga Moskona timur berprofesi sebagai petani.  Mereka tidak bisa menjual produksi pertanianya lantaran harga angkut pesawat mahal.

“Selama ini, hasil panen cuma dimakan sendiri.warga masih banyak yang miskin. Tidak ada yang bisa kami jual karena biaya angkut pesawat sangat mahal,”sebut Paulus.

Paulus menambahkan, di distrik terdapat 12 kampung, harga bahan pangan disetiap kampung sama. Warga Moskona Timur siap melaksanakan Pilkada 2015 jika para kandidat dapat memperhatikan kondisi di distrik tersebut.

Terkait hal ini beberapa waktu lalu, kepala distrik Moskona Timur dan kepala distrik Moskona Utara yang wilayahnya juga memiliki kondisi yang sama, sempat datang ke Kantor DPR Papua Barat.  Mereka minta DPR Papua Barat bersama pemerintah kabupaten Teluk Bintuni mendorong pembangunan jalan yang dapat menghubungkan dua distrik ini menuju ibu kota kabupaten. |TOYIBAN