Foto bersama para petani Distrik Teluk Duairi bersama petugas Dinas Pertanian dan Pangan usai pelatihan di Kantor Kampung Sobey Indah, Kamis, 28 September 2017.

Harga pupuk melambung tinggi, petani menjerit

WASIOR, Cahayapapua.com— Harga pupuk yang cukup tinggi membuat para petani di Kabupaten Teluk Wondama merasa sangat terbebani.

Pupuk non subsidi dibeli petani dengan harga selangit antara Rp.500 ribu – 600 ribu/zak. Padahal di Manokwari, pupuk yang sama dilepas dengan harga jauh di bawah.  Paling tinggi  seharga 200 ribu/zak.

Asri Hasan, petani sawah di kawasan transmigrasi Kampung Sobey Indah, distrik Teluk Duairi ditemui Kamis (28/9) di sela-sela mengikuti pelatihan di kantor kampung Sobey Indah mengaku, meskipun mahal petani terpaksa membeli karena sangat membutuhkan pupuk.

“Kendala kita selama ini yang paling utama adalah pupuk. Jadi biar mahal tetap beli. Itu sudah mahalpun petani tidak bisa dapat banyak karena barangnya sedikit saja,” kata Asri.

Tidak adanya pasokan pupuk bersubsidi rupanya menjadi alasan utama kenapa harga pupuk di Wasior melambung tinggi. Para pengecer lantas memanfaatkan situasi tersebut dengan mendatangkan pupuk non subsidi dari Manokwari kemudian menjual dengan harga yang mahal.

“Yang kita dapat di sini kebanyakan pupuk non subsidi karena memang pupuk subsidi belum pernah masuk di Wondama,” ujar Asri lagi.

Itu sebabnya dia berharap Pemkab Teluk Wondama melalui instansi terkait secepatnya mencari jalan keluar agar pupuk bersubsidi bisa masuk ke Wondama sehingga beban biaya yang ditanggung petani bisa berkurang.

“Harapan kita Pemda bagaimana caranya mencari pihak-pihak ketiga supaya ada pemasok pupuk bersubsidi,” ucap dia.

Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Distrik Teluk Duairi Otto Wosiri membenarkan pupuk memang menjadi kebutuhan yang paling dicari petani di wilayah transmigrasi di Sobey maupun Warayaru.

Tidak adanya pupuk berakibat tanaman padi milik petani menjadi kurang subur. Buntutnya hasil produksi akhirnya tidak mencapai target. “Sudah musim tanam ke-4 ini kita kendala di pupuk, “ ujar Otto.

Untuk mengatasi sulitnya mendapat pupuk, Otto menyarankan sebaiknya para petani menggunakan pupuk non kimiawi yakni pupuk kompos. Selain material pembuat kompos banyak tersedia, penggunaan pupuk non kimia justru membantu kesuburan tanah.

“Kalau dikasih pupuk kimia terus bisa merusak kondisi tanah karena di sini tanahnya berpasir,” ujar Otto.

Sebelumnya Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Metusalak Boseren menjelaskan, pupuk bersubdisi yang menjadi jatah Teluk Wondama hingga kini belum bisa dibawa ke Wondama karena terhambat persyaratan teknis yang ditetapkan produsen pupuk yakni PT.Pupuk Sriwijaya.

Persyaratan teknis yang wajib dipenuhi adalah harus ada pengusaha yang menjadi distributor dengan ketentuan harus memiliki gudang penyimpanan serta alat angkut yang memadai. Syarat ini yang sampai sekarang belum bisa terpenuhi. (brv)

Tinggalkan Balasan