Perayaan Tahun Baru China oleh Paguyuban Sosial Keturunan Tionghoa Wondama di Pantai Mawaa, Dotir, Teluk Wondama, Sabtu, 28 Januari 2017.

Imlek 2568 di Wondama Dipusatkan di Lokasi Pendaratan Pertama Warga Tionghoa

WASIOR, Cahayapapua.com— Seperti di daerah lainnya, warga keturunan Tionghoa di Kabupaten Teluk Wondama yang tergabung dalam Paguyuban Sosial Warga Tionghoa juga merayakan Imlek atau Tahun Baru China.

Perayaan Imlek yang jatuh pada 28 Januari 2017 dilaksanakan di pantai Mawa’ar di kampung Maimari distrik Wasior. Ada alasan khusus kenapa pantai Mawa’ar dipilih sebagai pusat perayaan Tahun Baru China ke-2568.

Kawasan pantai Mawa’ar dan sekitarnya yang dulunya merupakan bagian dari desa Dotir – sekarang Dotir dan Maimari masing-masing sudah menjadi kampung definitif –  ternyata merupakan tempat pendaratan warga Tionghoa pertama di Teluk Wondama.

Jadinya perayaan Imlek tahun ini sekaligus menjadi momentum untuk mengenang kembali sejarah kedatangan orang Tionghoa ke tanah Wandamen.

Menurut Daniel Go Marani yang merupakan generasi kedua keturunan Tionghoa di Wondama, orang Tionghoa pertama tiba di Wondama pada sekitar 1940-an. Mereka berlayar dari Manokwari menggunakan perahu dayung jenis ‘kole-kole’ berukuran besar yang disebut ‘Rorehe’.

Perjalanan hingga ke Wondama, tepatnya di pantai Dotir  ditempuh dalam waktu 40 hari 40 malam. “Kita mulai keluar dari Manokwari selama 40 hari. Sampai di Dusner (di seberang kota Wasior) baru nyeberang ke Dotir, kita tinggal di pantai yang dulu disebut pantai Rore, “ cerita Daniel Go.

“Orang China pertama yang injakan kaki di Dotir adala Go Cheng Cai,  bapa tua saya, “ lanjut dia.

Sebagai orang yang ikut serta dalam rombongan warga Tionghoa pertama tiba di Wondama, Dan Go merasa sangat bersyukur karena kehadiran mereka diterima dengan baik oleh masyarakat Dotir.

“Dulu orang tua Dotir menerima siapapun tamu dari luar dengan tangan terbuka. Tidak tuntut bayar tanah, bayar ganti rugi dan lain-lain. Mereka berikan tanah untuk saya punya bapa tua tinggal bertahun-tahun sampai kawin dengan perempuan Dotir, “ kisah mantan Ketua KPU Teluk Wondama ini.

Sekretaris Daerah Jusak Karubuy dalam sambutannya mengakui kehadiran warga turunan China telah membawa banyak pembaharuan positif dalam peradaban orang Wondama. Karena itu dia mengajak semua warga turunan Tionghoa untuk terus berkontribusi membangun daerah.

“Kita sudah bersatu tidak ada lagi etnis ini dan itu kita semua adalah orang Wondama. Maka mari kita semua bersatu membangun Wondama. Ada orang-orang China disini maka kita bisa tahu peradaban, “ ujar Karubuy. (BRV)

Tinggalkan Balasan