Ilustrasi
Ilustrasi

Incumben Disebut Bungkam Demokrasi Tambrauw

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Incumben atau calon Petahana Gabrial Asem, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Tambrauw disebut telah melakukan pembungkaman Demokrasi daerah tersebut.

“Proses Demokrasi Pilkada Tabrauw saat ini di bungkam oleh penguasa. Masyarakat tidak punya pilihan lain selain dipaksa untuk mengakui satu kandidat dalam Pilkada kali ini,” tuding salah satu Tokoh Pemekaran Tambrauw Drs.Nikodemus Barru MM, Rabu (26/10).

Dikatakannya, hanya ada salah satu kandidat yang maju sebagai Paslon tunggal dalam pesta demokrasi ini, yakni Bupati yang merupakan Incumben. Dan ironisnya sebut dia, seluruh Partai politik yang ada di daerah itu ramai-ramai memberikan dukungan kepada sang mantan.

Nikodemus, menyatakan cukup kecewa dengan kondisi yang ada di Daerahnya. Menurutnya ketika Demokrasi Tambrauw dimatikan, maka sama halnya dengan tidak ada keterlibatan masyarakat dalam membangun daerahnya.

“Saat ini masyarakat tabrauw baru merasakan zamanya orde baru di saat penguasa menggunakan tangan besi membungkam hak-hak dasar demokrasi masyarakat Tabrauw” tukasnya.

Jikalu di lihat dari hasil yang di capai selama kepemimpinan Bupati lima Tahun terakhir ini  bisa di bilang tidak nampak di rasakan oleh Masyarakat di daerah tersebut.

“Dana di kucurkan begitu besar, tapi apa yang ada di Daerah sana berbanding terbalik, uang yang keluar dengan hasil pembangunan tidak seimbang. Hal ini sudah semestinya Pemerintah harus jujur dan bijaksana kemudian bertanggung-jawab atas semua ini,” tekannya.

Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Manokwari ini (Nikodemus red), juga menuding Negara saat ini membiarkan masyarakat Tambrauw dalam situasi yang dilematis. Terutama lembaga penyelenggara pemilihan yang memuluskan Incumben maju tanpa ada lawan dalam Pilkada ini.

“Incumben kalau memang gentelmen atau percaya diri kenapa harus membukam ruang demokrasi dengan cara memborong semua partai politik yang ada, sehingga menutup partisipasi generasi muda untuk andil dalam Pilkada. Padahal ada juga pemuda yang siap maju tetapi terbentur dengan kendaraan politik “keluhnya.

Hal senada juga di sayangkan Tokoh Masyarakat Tabrauw, Yusak Wabia, S.Sos yang saat ini berkecimpung dalam Birokrasi Kabupaten Manokwari. Menurutnya sesuai informasi yang di peroleh ada beberapa kandidat yang ingin bertarung dalam Pilkada Tabrauw namun tidak dapat ruang, sebab partai sudah di borong oleh kandidat.

“Ada tiga kandidat yang merupakan pribumi Tambrauw, sementara Incumben hanya memiliki hubungan pertalian di daerah itu harusnya beliau mengerti dan membuka ruang supaya Pilkada ini bisa berjalan dengan sehat,” harapnya.

Bukan hanya itu, ia menyebutkan abahwa ada monopoli Partai Politik dalam memberikan dukungan. Karena itu, hal ini menunjukan sang mantan ketakutan memberikan ruang agar kandidat lain ikut bersaing dalam perhelatan Pilkada Tabrauw. “Kalau merasa didukung oleh akar rumput karena selama ini menjabat sebagai Bupati, lantas kenapa harus takut,” ucapnya. Ujarnya.

Negara ini menganut sistim demokrasi, lanjut dia, di mana amanat Undang – undang (UU) sudah jelas.Dituturkannya, kondisi yang ada di Tabrauw saat ini seperti layaknya rezim orde baru yang sudah ditumbangkan. Cara ini, inilah yang di gunakan oleh Suharto, namun sudah tidak berlaku lagi saat itu masyarakat tidak boleh macam-macam. Sebab apa yang di putuskan maka itulah yang di pakai.

“Memang ada UU yang mengatur tentang calon tunggal namun itu sepanjang tidak ada lawan yang mendaftar ke KPU, lah ini ada orang yang siap namun di batasi dengan Partai Politik,” ujarnya.

Dia menilai kondisi ini jika di biarkan oleh negara maka bukan tidak mungkin lagi kedepan akan timbul konflik sosial akibat pemimpin daerah yang di nilai otoriter dan tidak mengharagi hak Demokrasi Masyarakat Tabrauw.

“Saya pikir penyelenggara Pilkada harus menunda Pilkada Tambrauw dan pemerintah Provinsi sebaiknya menurunkan Karteker biarkan Tabrauw menyelengarakan Pilkada di tahun 2018 saja, jika dibiarkan masalah ini terus berlanjut, maka itu artinya pemerintah menanam bom waktu di daerah Tambrauw,” tutupnya mennegaskan. (MAR)

Tinggalkan Balasan