Kampanye terbuka pertama pasangan nomor urut 1 Dominggus Mandacan dan Muhamad Lakotani di Lapangan Hocky, Kota Sorong, (10/1/2017).

Isu SARA Tak Kuasa Jegal DOAMU di Kota Sorong

Warga datang secara bergelombang sejak pagi dari pelbagai penjuru Sorongraya. Meski terpapar terik matahari, mereka rela berkumpul untuk satu tujuan:  menunggu kehadiran– dan memberi dukungan kepada– duet Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan dan Mohamad Lakotani.

PANGGUNG kampanye di Lapangan Hocky Kota Sorong, benar-benar menjadi magnet bagi ribuan warga, Selasa (10/1) siang. Di atas panggung inilah, Duet Dominggus Mandacan dan Mohamad Lakotani (DOAMU) menggunakan kesempatan perdananya berkampanye secara terbuka dalam perhelatan Pilkada Papua Barat 2017.

Kampanye dimulai sekitar pukul 13.00 WIT, tepatnya ketika Dominggus dan Lakotani tiba di panggung utama usai diarak oleh warga dalam sebuah tandu bermodel perahu. Selain massa yang sesak di lapangan, pasangan ini juga disambut tari-tarian tradisional dari berbagai etnis, termasuk pagelaran barongsai dan suling tambur.

Puluhan warga Kota Sorong yang berasal dari Pegunungan Tengah Papua, juga menyambutnya dengan tari-tarian. Politikus senior Papua Barat, Jimmy Ijie, menyebut aksi itu sebagai bentuk solidaritas masyarakat adat pegunungan tengah Papua terhadap Dominggus yang juga adalah kepala suku besar Arfak di kepala burung Tanah Papua.

Jimmy Ijie dalam orasinya berkali-kali menegaskan peran penting Dominggus untuk memperjuangkan pemekaran Provinsi Papua Barat yang ketika itu bernama Provinsi Irian Jaya Barat. Jimmy yang juga tokoh pemekaran tampak merasa kesal sebab ada juga sejumlah rumor yang seolah menihilkan peran strategis Dominggus dalam perjuangan tersebut.

“Sekarang banyak yang unjuk muka dan tepuk dada. Dorang pergi anyam rambut sementara yang lain berjuang korbankan darah, keringat dan air mata. Saya kasih tahu… Kalau bukan Dominggus Mandacan yang waktu itu adalah bupati Manokwari menyediakan sejumlah dana untuk perjuangan, menyediakan Manokwari sebagai ibukota, memberikan jaminan keamanan, menyediakan fasilitas untuk pemerintahan, tidak mungkin provinsi ini jalan,” ujarnya berapi-api di hadapan massa.

Ia juga menyatakan kelak DOAMU akan memperjuangan perbaikan infrastruktur di Papua Barat terutama jalan dan jembatan untuk membangun interkoneksitas antar daerah; memperbaiki kualitas pendidikan lewat skema pendidikan gratis dari SD hingga SMA an bantuan studi untuk mahasiswa; serta mengalokasikan dana Otsus yang lebih besar—yakni 90 persen—ke kabupaten/kota. Ia juga menyatakan komitmen DOAMU untuk mendorong Kota Sorong sebagai gerbang pembangunan di kawasan timur Indonesia.

Pendukung pasangan DOAMU dalam kampanye terbuka di Lapangan Hocky Kota Sorong.

Jimmy dalam orasinya juga menyatakan kegeramannya terhadap stigma OPM yang kerap dialamatkan ke Dominggus.. “Bagaimana disebut OPM, sementara orang tua beliau dikubur di Taman Makam Pahlawan! Kalau tidak mampu bangun Papua Barat, jangan menjelekkan orang lain. Dominggus telah terbukti membangun Manokwari Raya,” seru Jimmy.

Sementara itu Dominggus kembali menekankan pentingnya alokasi dana otsus yang lebih besar bagi daerah terutama kabupaten/kota. Jumlah yang menurutnya pantas adalah 90:10. “10 persen untuk provinsi untuk keperluan monitoring, evaluasi dan pelaporan. Sementara 90 persen untuk kabupaten/kota sebab provinsi tidak perlu mengerjakan proyek fisik dari dana Otsus. Kabupaten/kota yang lebih tahu kebutuhan riil,” kata Dominggus yang juga menyatakan mendukung pemekaran Provinsi Papua Barat Daya.

Dominggus pun berjanji menyediakan sehari dalam sepekan untuk menerima masyarakat umum untuk bertamu atau menyampaikan aspirasi, keluh kesah dan masalah yang hendak disampaikan kepada pemerintah provinsi. “Ini bisa juga menjadi satu forum bagi warga untuk mengingatkan gubernur mengenai janji-janji dan komitmennya kepada rakyat selama berkampanye,” jelas Dominggus.

 

Dihadang Isu SARA
Informasi yang dirangkum Cahaya Papua dari sejumlah sumber menyebut bahwa DOAMU awalnya kesulitan ‘menaklukkan’ kota Sorong dan daerah sekitar.  Bukan saja karena lawannya pada Pilkada kali ini, terutama Stepanus Malak  yang dianggap merepresentasikan kekuatan politik di kawasan Sorong Raya, namun juga karena derasnya isu negatif bernuansa SARA yang dialamatkan ke DOAMU, terutama Dominggus.

Isu itu misalnya bahwa Dominggus terlibat dalam aksi penolakan pembangunan masjid raya dan menginisiasi lahirnya rancangan Perda Kota Injil di Manokwari. Isu ini berhembus kencang di basis-basis komunitas Muslim khususnya di Kota Sorong. Karena momentumnya adalah Pilkada, tampaknya isu ini digelindingkan pihak tertentu untuk membentuk opini bahwa Dominggus bersikap intoleran selama dua periode memimpin Manokwari. Konsekuensi dan tujuan elektoralnya tentu bisa ditebak. Belum lagi konsekuensi sosialnya.

Menghadapi serangan yang dalam perspektif DOAMU adalah “fitnah” ini, Dominggus tetap memilih sabar dan tidak reaktif. Disinilah kualitasnya sebagai pemimpin ikut teruji. Bersama pasangannya, Lakotani– yang juga adalah politisi yang memiliki rekam jejak sebagai aktivis Islam terutama pada masa mudanya di organinasasi mahasiswa Islam terbesar di tanah air, HMI; dan Majelis Muslim Papua–  Dominggus justru menggencarkan komunikasi politik dan intens berdialog dengan para tokoh-tokoh muslim di kawasan Sorong Raya.

Pendekatan dialogis ini terbukti ampuh. Perlahan, Dominggus, Lakotani dan timnya meyakinkan umat bahwa dalam dua hal tersebut dirinya sama sekali tidak terlibat. Ketika itu dirinya hanyalah kepala daerah, yang menerima aspirasi warga yang mendorong agenda tersebut. Sementara Lakotani dalam berbagai kesempatan menyatakan dirinya siap menjadi garansi bagi umat muslim Papua Barat jika kelak  kebijakan yang ditelurkan DOAMU bersikap diskriminatif.

“Kebijakan apapun yang diskriminatif tidak mendapat tempat dalam agenda politik DOAMU,” kata mantan kepala sekretariat UP4B ini.

Buah dari pendekatan ini pun membuat DOAMU mendapat sokongan tambahan dari kekuatan politik islam, Partai Bulan Bintang. PBB adalah partai Islam terkuat di parlemen Kota Sorong yang belakangan menyatakan dukungannya kepada DOAMU. Sambutan umat Islam di wilayah Sorong dalam berbagai kesempatan terhadap Dominggus juga cukup baik, seperti yang tercermin dalam pertemuan DOAMU dengan komponen umat Islam di gedung ACC Kota Sorong, beberapa hari lalu.

Sayap perjuangan DOAMU yang diorganisir oleh relawan-relawan serta pegiat partai pendukung dan pengusung, terus menggarap dukungan di basis-basis rakyat, profesi, hingga ke wilayah pedalaman. Alhasil, pada kampanye terbuka yang digelar kemarin, aliran pendukung tidak saja berasal dari kota Sorong tapi juga dari daerah-daerah pedalaman, kepulauan dan pesisir semisal Maybrat, Raja Ampat, Sorong Selatan dan lainnya.

Kampanye negatif, isu bernuansa SARAdan lainnya  juga terlihat tidak efektif lagi untuk membendung simpati rakyat terhadap pasangan Dominggus-Lakotani di Kota Sorong. Selain secara faktual mendapat dukungan dari partai berbasis Islam, massa sekitar 10 ribu orang—menurut taksiran Bawaslu Papua Barat–yang menghadiri kampanye terbuka DOAMU juga terlihat sangat beragam.

“Ini baru perwakilan-perwakilan. Kalau kita mau datangkan semua, butuh 3 kapal induk untuk mengangkut pendukung DOAMU ke Lapangan Hocky. Ini semua tanda-tanda kemenangan,” kata politikus PDIP, Jimmy Demianus Ijie, mantan Ketua DPR Papua Barat yang aktif berkampanye untuk DOAMU.

Sementara itu Lakotani menyatakan publik dan pendukungnya tak perlu terprovokasi pada isu-isu SARA yang dikembangkan pihak tertentu untuk mendiskreditkan DOAMU. “Waktu tak lama lagi.  Jangan termakan isu. Mereka sudah kehabisan akal,” katanya.(RD1/DEL)

 

Tinggalkan Balasan