Peserta kemah kepemimpinan sosial dan lingkungan yang diorganisasir Bentara Papua di Pulau Lemon, Manokwari.
Peserta kemah kepemimpinan sosial dan lingkungan yang diorganisasir Bentara Papua di Pulau Lemon, Manokwari.

Jaga Hutan: Pemuda Kampung Bertemu dan Berbagi Pengalaman

Puluhan pemuda adat berbagai latar belakang berkumpul di Pulau Lemon, tak jauh dari Pulau Mansinam, Manokwari, Sabtu (19/10). Pemuda sejumlah kampung di Tanah Papua ini belajar mengembangkan diri terutama dalam kesiapan mereka menghadapi perubahan sosial yang berlangsung cepat.

BERBEDA dari pelatihan lain, belajar bersama ini merupakan upaya lebih maju untuk menyiapkan diri mereka menjaga hutan Papua (sumber kehidupan) dari ekspansi global perkebunan berskala besar, termasuk industri ekstraktif dan pembangunan tak ramah.

Belajar bersama yang dikemas dalam kemah kepemimpinan sosial dan lingkungan ini berlangsung santai dengan materi aktual – mendalam, termasuk teknis yang bersifat dialogis. Didalam proses, peserta bahkan bebas memberi testimoni atau pengalaman.

Simon Wagarefe dari Kampung Sira Distrik Saifi misalnya. Ia bercerita soal pengalaman pemuda di kampung-nya mengorganisasi diri melawan ekspansi sawit tahun 2014. Kampung mereka kini telah berstatus sebagai Hutan Desa bersama Kampung Mangrohollo. Hutan Desa memberikan kesempatan bagi warga kampung itu mengelola kekayaan alam mereka dengan cara -cara yang lebih ramah dan terkontrol.

Konstan Magablo dari Sorong memberikan pengalaman berbeda. Ketua AMAN Sorong Raya ini bercerita bahwa menjaga hutan tidak cukup dengan mengimbau masyarakat kampung. Masyarakat perlu contoh bahwa menjaga hutan bisa juga memberi manfaat ekonomi kepada mereka (selain dengan cara pemanfaatan yang lain yang ramah lingkungan).

Di Kampung Malagufuk, Distrik Klaili, Kabupaten Sorong misalnya. Kampung yang menjadi areal sawit PT. Mega Mustika Plantation (areal konsesi perusahaan ini seluas 9835 hektare) itu didorong menjadi objek wisata burung Cenderawasih oleh pemuda setempat pada 2014 lalu.

Hingga tahun 2016, sudah lebih 200 turis asing berkunjung ke sana untuk melihat langsung aksi burung surga itu. Ini adalah salah satu contoh gerakan pemuda kampung yang berhasil membuka mata masyarakat bahwa menjaga hutan bisa mendatangkan manfaat ekonomi.

“Efek dari keberhasilan kampung Malagufuk menjadi kampung ekowisata meluas ke kampung lain. Masyarakat kampung lain di sekitar kampung itu beramai-ramai ingin agar potensi kampung mereka juga bisa dikelola sama seperti di Kampung Malagufuk,” kata Konstan.

Saat ini masyarakat dari Distrik Klaili, Makbon, Sengkuduk, Klasow dan Selemkai (yang termasuk dalam konsesi sawit MMP) sedang berusaha agar distrik mereka bisa dikeluarkan dari areal konsesi MMP. Meski sudah ditetapkan sebagai lahan sawit, hutan di 5 distrik tersebut masih utuh atau belum dilakukan land clearing untuk penanaman kelapa sawit.

Yanuarius Taulan dari Merauke menggarisbawahi bahwa ekpansi sawit di daerahnya telah merusak sumber kehidupan mereka secara massif. Pengalaman ini menurutnya harus menjadi pembelajaran bagi masyarakat adat kampung-kampung lain di Papua.

Pelatihan yang diorganisir Bentara Papua bersama Rainforest Foundation Norwey dan Kurabesi Nusantara ini merupakan lanjutan dari ekspedisi menyasar sejumlah kampung di Utara Papua Barat melalui laut. Pelatihan dengan materi yang beragam ini akan berakhir hari ini.

Pada akhirnya pelatihan ini bisa memberikan manfaat kepada pemuda di kampung lain di tanah Papua tentang cara-cara menjaga hutan. “Disini saya bisa belajar bahwa menjaga hutan berarti melindungi sumberdaya alam untuk kelanjutan hidup kami dimasa depan,” kata Hanok Manggaprow, pemuda kampung dari pulau Lemon yang baru pertama kali mengikuti pelatihan semacam ini. (DEL)

Tinggalkan Balasan