ilustrasi_Dugaan Korupsi

Jaksa Hadirkan 5 Saksi Kasus Rehabilitasi Lahan di Teluk Wondama

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Rehabilitasi dan Lahan Tahun Anggaran 2013 pada Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Wondama, Salmon Weyai dan beberapa orang lainnya akhirnya memberikan keterangan kepada hakim tindak pidana korupsi Papua Barat di Manokwari, Rabu (17/2).

Salmon dihadirkan oleh jaksa sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi rehabilitasi lahan dan hutan di Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Wondama tahun anggaran 2013. Kasus ini menyeret 2 terdakwa yakni mantan koleganya, Mulyono Herlambang (KPA Dinas Kehutanan Wondama) dan Haji Safarudin Sele, Direktur CV Celebes Perkasa.

Apa saja keterangan para saksi? Di hadapan hakim, Salmon mengaku tidak tahu banyak soal kegiatan rehabilitasi tersebut. Padahal ia bekerja di kantor tersebut dan bahkan bertindak sebagai PPTK. Begitupun dengan dokumen kontrak kegiatan yang ia sebut, tak diketahuinya dengan pasti.

Meski begitu, Salmon mengaku pernah ‘turun lapangan’ untuk mengecek pekerjaan.   Ia juga tahu soal pengadaan beberapa peralatan seperti pahat, linggis, sepatu boat, cangkul dan lainnya. Namun saksi mengaku tidak mengecek secara detail.

Selain Salmon, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Manokwari Jhon Ilef Malamassam SH.,MH juga menghadirkan 4 saksi lainnya diantaranya Piten Baransano, Kornelius Warami dan Yohanes Bauw serta Muhammad Rusli Rahman.

Dalam persidangan, Piten mengaku telah menjual sebanyak 40.000 bibit tanaman merbau, buah hitam dan matoa yang dijual kepada kontraktor dengan harga Rp 3.700 per bibitnya. Pembayaran untuk pembelian bibit itu dilakukan secara langsung sebesar Rp 120.000.000. Terungkap juga bahwa Piten adalah PNS yang bekerja di di kantor dinas kehutanan setempat.

Saksi lain, Yohanes yang bertindak sebagai pembibit dan penanam, lebih banyak mengatakan lupa saat ditanyai hakim. Saksi hanya mengingat bahwa harga jual per bibit sebesar Rp 3.700 dan biaya tanam di lahan seluas 15 hektar sebesar Rp 10 juta. Ia mengaku melakukan penanaman dengan peralatan kayu meskipun kontrak menyebut seharusnya menggunakan alat perkebunan.

Sementara itu, saksi Kornelius yang bertindak sebagai penanam, mengakui menanam16 ribu bibit pohon pada lahan seluas 15 hektar dengan bayaran Rp 10 juta. Tapi lagi-lagi penanaman dilakukan dengan menggunakan kayu sebagai alat pengganti linggis.

Saksi lain, Muhammad Rusli Rahman, Direktur CV Fajar Alam yang bertindak sebagai pendamping kegiatan membeberkan fakta tidak adanya lelang dalam proyek tersebut karena hanya dilakukan sebagai formalitas.

Berkaitan dengan penandatanganan dokumen sebagai pendamping, saksi mengaku kalau dokumen yang di tandatangani itu diantar langsung ke rumahnya oleh kontraktor Haji Sele. Padahal, saksi mengaku tidak memberikan profil perusahaan kepada Dinas Kehutanan. |HENDRIK AKBAR