Wakil Bupati Manokwari Edi Budoyo, Kapolres dan warga menyingkirkan pohon yang dipakai warga Kampung Hink, Distrik Manokwari Selatan, untuk memblokade jalan di daerah tersebut, kemarin.

Jalan Trans Papua Barat Dipalang, Buntut Napi Tewas di Lapas

MANOKWARI, Cahayapapua.com—  Keluarga korban Agabus Saroi yang ditemukan tewas dengan leher di kekang tali di dalam sel isolasi Lapas Kelas IIB Manokwari melakukan aksi pemalangan jalan trans Papua Barat, Sabtu (8/10/2016), tepatnya di Kampung Hink, Distrik Manokwari Selatan.

Puluhan kendaraan yang hendak melintasi harus tertahan. Kemacetan panjang pun terjadi.

Salah satu kerabat korban, Ananias Towansiba kepada wartawan kemarin mengatakan, pemalangan di lakukan akibat tewasnya Agabus Saori di sel isolasi Lapas Manokwari.

“Kami menduga almarhum meninggal bukan karena bunuh diri namun dia di bunuh orang,” kata dia.

Menurutnya, pemalangan akan di lakukan hingga tuntutan keluarga korban di penuhi.  “Kami menuntut atas pembunuhan ini dengan denda Rp 4 miliar, bila tidak di penuhi maka jalan tetap di palang hingga dua tiga minggu kedepan,” katanya.

Sejumlah sopir mobil dan pengendara roda dua yang mengendarai kendaraan melintasi jalan tersebut akhirnya berhenti, akibat  kondisi jalan yang diblokade.

Sementara penumpang yang ikut dalam mobil terpaksa memilih turun berjalan kaki sekitar ratusan kilo meter. Jenazah Agabus Saroi saat ini masih di kamar jenazah RSUD Manokwari. Pihak keluarga belum bisa menerima jenazah tersebut sebelum tuntutanya di penuhi.

Agabus Saroi terpidana kasus pembunuhan ditemukan tewas pada Jumat (7/10/2016) sore, sekitar pukul 17.00 WIT, di dalam sel isolasi Lapas Manokwari. Korban pertama kali di temukan oleh juru masak Miftahul Romadhoni yang saat itu hendak mengantar jatah makan korban. Saksi kaget melihat korban dengan posisi leher terjerat tali di bilik tahanan korban saat itu tersandar di pintu.

Kepala Lapas Manokwari Jervius Siaten mengatakan, belum dipastikan korban meninggal akibat bunuh diri atau tidak, sebab posisi korban saat ditemukan terdapat di bawah pintu dengan leher terkekang tali. “Kalau gantung diri saya belum bisa pastikan sebab korban ditemukan dalam posisi di bawah depan pintu,” ujarnya.

Agabus divonis atas tuduhan membunuh Aleks salah satu PNS Dinas Kehutanan dengan hukuman 13 tahun terhitung sejak tahun 2011 lalu. Dia sempat melarikan diri dari lapas sejak 15 Januari 2014, kemudian  kembali di tangkap Reskrim Polres Manokwari setelah diketahui mangkal di Maruni sekitar beberapa bulan yang lalu. Dia pun kembali di serahkan ke lapas waktu itu.

Menurut Kasat Reskrim AKP. Aris Diego Kakori, pihaknya menerima laporan dari Kepala Lapas bahwa seorang tahanan di temukan tewas, pihaknya melakukan olah TKP penanganan jenazah korban.

“Sejauh ini kita masih menduga kuta korban tewas akibat bunuh diri, walaupun demikian kita tetap menginterogasi orang yang melihat terakhir korban, baik pagi siang hingga malam,” ujarnya.

Dugaan korban tewas bunuh diri ini semakin kuat sebab tempat korban saat di temukan di ruangan isolasi, sebab polisi berkilah yang hanya masuk dalam ruangan isolasi hanya petugas lapas dan tahanan yang bersangkutan.

Setelah melalui proses negosiasi yang panjang ahirnya pada Minggu (9/10/2016) pemalangan jalan di buka kembali dengan di hadiri Wakil Bupati Manokwari, Kapolres serta Kakanwil Hukum dan HAM Papua Barat dan juga di hadiri Kepala Lapas Manokwari. Pembukaan palang sekitar pukul 14.00 WIT. (MAR)

Tinggalkan Balasan