Jalan Trans Papua Barat. Source: Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XVII Papua Barat

Jalan trans Papua Barat perlu penanganan serius

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Pembangunan jalan trans di wilayah Provinsi Papua Barat dinilai membutuhkan penanganan lebih serius agar pembangunan tersebut segera tuntas.

Anggota DPR Papua Barat Jhon Dimara di Manokwari, Senin, mengatakan, sudah sepuluh tahun pemerintahan Provinsi Papua Barat sah terbentuk. Namun, ruas jalan penghubung Manokwari-Sorong,Manokwari-Bintuni dan Manokwari-Pegunungan Arfak belum mengalami perubahan signifikan.

Dia menyebutkan, ruas jalan Manokwari-Sorong yang melewati Kebar-Fef-Mega masih membutuhkan sentuhan.

“Masih banyak jembatan darurat yang terbuat dari kayu batangan. Ini beresiko bagi keselamatan pengendara yang melintas. Apalagi di beberapa titik aering terjadi longsor,” katanya.

Politisi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) ini mengharap, pemerintah pusat melalui kementerian Pekerjaan Umum lebih fokus. Dia juga berharap, pemerintah terus mengucurkan anggaran.

“Kalau dana yang dianggarkan maksimal sesuai perhitungan konsultan perencanaan pekerjaan bisa dikebut,” tuturnya.

Dimara pun menyoroti ruas Manokwari-Bintuni yang sudah sekian tahun belum juga membaik. Pada salah satu titik masih terdapat kubangan lumpur saat hujan tiba.

Kepala Balai Satuan Kerja Balai Jalan Nasional Wilayah XVII Papua Barat Yohanes Tulak Todingrara pada wawancara terpisah mengatakan, jalan trans Papua di Papua Barat dibangun dalam dua segmen.

Pemerintah pusat menganggarkan Rp.1 triliun setiap tahun untuk pembangunan tersebut. Diperkirakan pembangunan selesai pada tahun 2019.

“Total panjang jalan trans Papua Barat kurang lebih 1.070 Km. Segmen satu meliputi jalan Sorong ke Aiwasi sepanjang 595 Km. Saat ini pembangunan sudah mencapai 80 persen yang sudah diaspal, tinggal dua 2 buah jembatan pendek yang belum dikerjakan dan akan dikerjakan pada akhir tahun 2017,” ujarnya.

Segmen II pembangunan ini akan dilakukan untuk mengubungkan Manokwari,  Wasior Teluk Wondama hingga perbatasan antara Papua dan Papua Barat.

“Kurang lebih 475 Km lahan yang sudah dibuka lagi. Pada ruas ini akan ada 125 jembatan yang harus dibangun.

Secara keseluruhan pada segmen II ini kurang lebih 330 km belum diaspal,” pungkasnya,” katanya. (ibn)

Tinggalkan Balasan