Ilustrasi

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua Barat memprioritaskan upaya pencegahan, pengawasan dan penindakan peredaran narkotika pada jalur transportasi laut. 

Upaya pencegahan dengan meningkatkan kapasitas masyarakat juga terus digalakkan untuk memutus mata rantai peredaran barang haram ini.

“Jalur laut ini akses peredaran yang terbesar. Modusnya, kapal masuk  kemudian barangnya didistribusi ke kapal-kapal kecil sebelum diedarkan,” kata kepala BNN Papua Barat, Brigjend Pol Untung Subagyo , Rabu (1/11) di Manokwari.

Setiap tahun, sebanyak 12 ribu warga meninggal sia-sia akibat penyalahgunaan narkoba atau setara dengan 12 jiwa per hari. Itu sebabnya presiden RI Joko Widodo menyebut Indonesia berada dalam status ‘darurat narkoba’.

Para pengguna didominasi pekerja swasta (50,34 persen), pelajar dan mahasiswa (27,32 persen) dan pengangguran (22,34 persen). Pengguna didominasi pria dengan persentasi 74 persen lebih, dan sisanya perempuan.

Data ini menyuguhkan kenyataan bahwa penyalahgunaan Narkoba tejadi hampir dalam seluruh segmen generasi.

“Bahkan sekarang, para pengedar juga menyasar anak-anak SD dengan menjajankan permen yang mengadung unsur Narkoba,” katanya.

Di Papua Barat, jumlah warga menurut data BNN yang sedang mencoba Narkoba sebanyak 3.376 orang, mereka yang mengonsumsi secara teratur sebanyak 2.203 orang, pecandu (laki-laki) sebanyak 6.429 orang dan perempuan sebanyak 401 orang.

Artinya ada sekitar 12.007 warga Papua Barat yang menyalahgunakan barang haram ini, atau memapar setidaknya 1,6 persen jumlah populasi/warga Papua Barat. (mar)

Leave a Reply