Genangan banjir di Kampung Sima, Nabire beberapa waktu lalu Foto: BNPB Via mongabay.co.id

Jarae-Manawari, Air Mata Yerisiam untuk Keadilan…

Kali Sima memberontak. Banjir telah melanda Kampung Sima dan sekitarnya. Ini pertanda, “Jarae dan Manawari” menuntut keadilan. Leluhur pun tahu dan rasakan apa yang sedang diderita oleh generasi penerusnya. Namun keadilan itu seakan haram bagi mereka di negeri ini, sehingga banjirlah yang harus menjadi panglima untuk melawan perusahaan sawit di Tanah Papua.

Oleh: Pietsau Amafnini*

Dua hari lamanya Nabire diguyur hujan deras. Kali Sima meluap hingga banjir menggenangi Kampung Sima. Seakan-akan banjir itu berasal dari tangisan leluhur orang Yerisiam atas ancaman yang datang dari perkebunan kelapa sawit. Kali Sima seakan memberontak terhadap keadaan yang kini dialami warga Yerisiam. Air mata dusun sagu “Jarae dan Manawari” telah menuntut keadilan menyusul perjuangan anak-cucu Yerisiam Gua yang sedang menanti keputusan Hakim PTUN.

Leluhur pun tahu apa yang sedang diderita oleh generasi penerusnya. “Jarae dan Manawari” telah diambil orang dan sebentar lagi pohon-pohon sagu akan tergantikan oleh pohon-pohon sawit yang tak pernah dikenal para leluhur semasa kejayaan mereka. Namun keadilan itu seakan haram bagi mereka di negeri ini, sehingga banjirlah yang harus menjadi panglima bagi mereka dalam perjuangan melawan perusahaan perkebunan sawit di Nabire, Tanah Papua.

Lembaran Siaran Pers tertanggal 27 Maret 2016 pun dilayangkan Suku Besar Yerisiam Gua terkait banjir yang telah melanda beberapa kampung di Tanah Yerisiam sejak 23 Maret 2016 itu. Suasana Hari Raya Paskah 2016 itu ternyata dirayakan dalam bentuk lain, yakni pergulatan melawan pemberontakan Kali Sima. Mungkinkah alam mulai marah? Atau memang seperti kata Ebid G. Ade bahwa alam mulai bosan? Banjir itu datang dengan tinggi mencapai hampir 3 meter. Rumah-rumah penduduk pun tak luput dari genangan air dari luapan Kali Sima. Entahlah, sesiapa yang harus dipersalahkan? Ini dosa siapa dan itu salah siapa? Tak ada korban jiwa, tapi tentu harta-benda.

Namun demikian kondisinya, tapi orang-orang Yerisiam itu tetap mengakui keagungan Sang Pencipta bahwa mereka telah terlahir dari Tanah Papua, tempat dimana mereka berada bersama “Jarae dan Manawari” di Kali Sima, Nabire. “Sekalipun kini, banjir telah mengancam kehidupan kami sebagai akibat dari keberadaan perkebunan sawit, kami tak pernah akan meninggalkan tempat warisan leluhur kami. Dalam penderitaan ini, kami tetap melantunkan syair: “Syukur Bagimu Tuhan, Kau Brikan Tanahku, Bri Aku Rajin Juga Sampaikan Maksudmu (IS.Kijne)”. Kalimat ini sangat berarti bagi kami orang Yerisiam bahwa kami akan terus berjuang sampai akhirnya “Jarae dan Manawari” kembali ke tangan kami dan IUP Sawit Nabire Baru pun tercabut dari Tanah Yerisiam. Demikian kata Roberthino Hanebora, Sekretaris Yerisiam Gua.

Melalui press release tertanggal 27 Maret 2016 yang dikirimkan kepada berbagai pihak, Kepala Suku Besar Yerisiam Gua, Daniel Yarawobi selaku pihak yang paling bertanggung jawab atas siaran pers ini menyatakan bahwa banjir yang telah menghancurkan harta-benda Orang Yerisiam adalah dampak dari keberadaan perkebunan sawit Nabire Baru. Hal ini tentu ada alasannya, karena menurut Daniel, dalam sejarah hidup mereka di dekat Kali Sima, belum pernah terjadi banjir besar seperti kali ini.

“Kondisi masyarakat Yerisiam Gua di Kampung Sima dan sekitarnya sangat memprihatinkan pada pasca banjir. Pasalnya hujan deras telah mengguyur  wilayah tersebut selama 2 (dua) hari berturut-turut yakni tanggal 23 hingga tanggal 24 Maret 2016. Kampung Sima berada dalam genangan air yang tingginya mencapai 2 (dua) meter lebih, hampir 3 meter. Banjir ini telah mengakibatkan 53 unit rumah penduduk terendam. Memang tidak ada korban jiwa, tapi semua warga mengalami kehilangan harta-benda.  Selain 53 dari 67 unit rumah itu, beberapa fasilitas umum seperti 3 unit gedung gereja dan 1 (satu) unit gedung Sekolah Dasar pun terendam total. Keadaan ini telah menyebabkan pula sekitar 45 warga masyarakat mengungsi dari Kampung Sima. Sayangnya tidak ada bantuan bagi mereka, karena baik pemerintah maupun masyarakat umum masih berada dalam suasana libur paskah. Kami sangat menyayangkan kejadian ini, karena selama bertahun-tahun orang Yerisiam Gua menghuni Kampung Sima dan sekitarnya di dekat Kali Sima, tak pernah terjadi banjir sebesar ini,” demikian kata Kepala Suku Besar Yerisiam Gua.

“Banjir ini terjadi akibat, expansi Perkebunan Kelapa Sawit PT. Nabire Baru (PT.NB) bersama dua perusahaan rekanannya yakni PT.Sariawana Unggul Mandiri (PT.SUM) dan PT.Sariwana Adhi Perkasa (PT.SAD) dimana keberadaan perkebunan tersebut tepat di depan Kampung Sima. Lokasi ini sudah tak ada pohon yang menjadi penyangga untuk menahan luapan Kali Sima, maka arus banjir dengan bebas menghantam perumahan Kampung Sima Masyarakat Yerisiam Gua,” tambah Daniel.

Tino Hanebora, Sekretaris Suku Yerisiam Gua pun menerangkan bahwa “Pembukaan areal ini diakibatkan karena perkerjaan yang dilakukan 3 (tiga) perusahan tersebut (PT.NB, PT.SUM dan PT.SAD) yang tanpa didasari oleh “Analisa Mengenai Dampak Lingkungan” (AMDAL), dan pekerjaan ini berjalan secara “ILEGAL” sejak Tahun 2008 sampai dengan tahun 2013 “, barulah diterbitkan AMDAL oleh pemerintah. Bahkan hingga saat ini mereka bekerja secara ILEGAL pula, sekalipun mereka mempunyai Izin Usaha Perkebunan, tapi sejak awal hal ini tidak ada kesepakatan dengan masyarakat adat Yerisiam Gua di Nabire. Menurut Tino, inilah akar masalah yang terjadi, yang sengaja dibuat oleh pemerintah bersama pihak perusahaan dengan memanfaatkan oknum masyarakat dari Suku Yerisiam sendiri dimana mereka melepaskan tanah tanpa melalui Musyawarah dan Mufakat bersama semua masyarakat Suku Besar Yerisiam Gua. Tino menambahkan pula bahwa pemerintah telah melegalkan sebuah kesalahan prosedur hukum kepada ketiga perusahaan tersebut, yakni PT.NB, PT.SUM dan PT.SAD.

Lebih parah lagi kata Tino, ketiga perusahaan yang bekerja secara ILEGAL di Tanah Yerisiam Gua ini seakan-akan mendapat perlindungan dari pemerintah setempat sebagai penyelenggara negara dan juga aparat keamanan negara. Akibatnya adalah dampak dari keserakahan semua pihak ini, telah menyebabkan adanya bencana banjir yang menghantam Kampung Sima sehingga Orang Yerisiam Gua yang sudah kehilangan hak atas tanah adat warisan leluhurnya, kini kehilangan harta-bendanya lagi. Sial benar, apa yang selama ini menjadi prediksi kami akan bahaya expansi perkebunan sawit ini akhirnya terjawab juga melalui banjir.

Melalui press release 27 Maret 2016, Kepala Suku Besar Yerisiam Gua, Daniel Yarawobi menyatakan bahwa “Kehadiran Perkebunan Kelapa Sawit di Tanah Yerisiam Gua, bukan keinginan seluruh Masyarakat Yerisiam Gua, namun kehadirannya oleh oknum-oknum masyarakat yang mengatasnamakan Orang Yerisiam Gua dan juga pihak-pihak yang mencari keuntungan dari proyek perkebunan Penanaman Modal Asing (PMA) PT.Nabire Baru (PT.NB), PT.Sariwana Unggul Mandiri (PT.SUM) dan PT.Sariwana Adhi Perkasa (PT.SAD) tersebut, yang berbuntut pada banjir yang mengorbankan seluruh Masyarakat Yerisiam Gua, yang sebahagian tak tahu apa-apa dan tak pernah menginginkan pula kehadiran perkebunan sawit tersebut.

Efek dari kehadiran ketiga perusahaan ini (PT.NB, PT.SUM dan PT.SAD) sudah dirasakan selama ini dimana tak ada perhatian kepada Masyarakat Yerisiam Gua. Justru yang terjadi adalah penindasan terhadap hak Masyarakat Yerisiam Gua, stigma konyol terhadap masyarakat Yerisiam ketika menuntut hak. Bahkan tak ada pembangunan yang dibuat oleh ketiga perusahan tersebut.  Lebih parah lagi, ketika masyarakat adat Yerisiam memprotes keberadaan perusahaan sawit, pemerintah tak pernah menyoroti perusahaan-perusahaan tersebut. Pemerintah seakan tak mau peduli dengan masalah ini. Padahal pemerintah yang memberikan IUP Sawit kepada pihak perusahaan, semestinya mereka merasa bertanggung jawab atas semua hal yang sekarang terjadi.

“Penderitaan karena banjir ini akan semakin mendorong kami orang Yerisiam Gua untuk terus melakukan perlawanan. Kami tidak pernah akan berhenti melawan perusahaan,” tegas Tino, sekretaris Yerisiam. Pihaknya juga menegaskan bahwa bentuk perlawanan mereka selaku masyarakat korban investasi perkebunan sawit ini secara kolektif Suku Besar Yerisiam Gua akan terus melakukan penuntutan terhadap pihak perusahaan dan pemerintah yang memberikan IUP kepada pihak investor, serta terhadap pihak-pihak yang mengatasnamakan Orang Yerisiam Gua. Bahkan penuntutan itu sudah dan sedang lakukan oleh pihak Yerisiam Gua. “Walaupun sekan-akan perlawanan ini tak digubris dan banyak dipolitisir, namun kami sudah lakukan dengan berbagai cara untuk melawan bentuk penipuan dan efek expansi perkebunan sawit yang kini telah menyebabkan kami kehilangan hak atas tanah dan juga telah membawa penderitaan baru bagi kami melalui banjir yang telah menelan harta-benda masyarakat adat Yerisiam”, tegas Tino.

Kepala Suku Besar Yerisiam Gua, Daniel Yarawobi pun menerangkan mengenai sikap tegas mereka dan beberapa bentuk perlawanan yang telah dilakukan, walaupun belum ada hasil, diantaranya: 1) Menggugat SK Gubernur Papua No.142 Tahun 2008 tentang pemberian Ijin Usaha Perkebunan (IUP) kepada PT.Nabire Baru di atas Areal 17.000 Hektare di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura sejak bulan Oktober 2015 hingga saat ini; 2) Menolak Program penciptanya Lapangan Kerja Tahap III oleh Presiden Republik Indonesia kepada PT.Nabire Baru, yang sudah kami tolak dalam bentuk Petisi oleh Suku Besar Yerisiam Gua dengan berbagai pihak-pihak yang ikut mendukung petisi kami bulan Januari lalu, guna menolak pernyataan Presiden tersebut; 3) Menolak Penambahan Areal dengan berkedok Plasma oleh PT.Nabire Baru yang ingin dibuka pada areal Dusun Sagu “Jarae dan Manawari” pada pertemuan Keluarga Besar Suku Yerisiam Gua yang dihadiri seluruh keluarga Besar Yerisiam dengan pihak perusahan yang dihadiri oleh Aparat Brimob PAM Sawit,TNI Koramil setempat dan pihak Koperasi hari Minggu 7 Februari 2016 lalu.

Sebagai informasi, hasil kesepakatan atau pertemuan tanggal 7 Februari 2016 tersebut ditolak 100% oleh seluruh masyarakat Yerisiam Gua dengan pertimbangan: 1) Dusun Sagu “Jarae dan Manawari” adalah tempat Sakral Masyarakat Yerisiam Gua, tapi juga adalah tempat peradaban manusia Yerisiam dan sebagai gudang makanan pokok manusia Yerisiam Gua; 2) Dusun sagu itu berhadapan tepat dengan Kampung Sima yang kini menjadi salah satu tempat yang menjadi hutan pelindung bagi Orang Yerisiam untuk bertahan terhadap dampak-dampak alam yang dipicu oleh keberadaan perusahan sawit.

Namun, kenyataan menjadi lain. Pada tanggal 14 Maret 2016 yang lalu, pihak perusahaan bersama Koperasi Plasma yang dibentuknya telah bersama pihak pemerintah dan oknum-oknum yang mengatasnamakan Orang Yerisiam telah membuat Acara Pengucapan Syukur atas penyerahan lahan plasma yang mencakup pula dusun sagu “Jarae dan Manawari”. Mereka pun telah berpesta pora merayakan kemenangan atas dasar tipu-daya itu. Sementara air mata “Jarae dan Manawari” terus menganak sungai hingga pada akhirnya Kali Sima pun memberontak dalam bentuk banjir yang melanda Kampung Sima, Wami dan Yaro.

Menurut Tino, perjuangan mereka yang sudah berlangsung sejak Oktober 2015 itu seakan-akan tak diperdulikan oleh pemerintah dan perusahaan. Suara Orang Yerisiam terkait IUP yang diterbitkan pemerintah tanpa sepengetahuan masyarakat adat, penolakan rencana penambahan lahan untuk plasma, hingga segala rentetan persoalan yang selama ini telah terjadi dan disuarakan, akhirnya terbukti melalui terjadinya banjir  dhasyat yang melanda Kampung Sima dan sekitarnya pada 9 hari kemudian setelah Acara Syukuran mereka.

Banjir tidak pilih kasih. Semua pasti merasakan akibatnya. Kali Sima akan terus memberontak dan air mata Yerisiam pun akan terus mengalir hingga keadilan itu datang membawa kembali “Jarae dan Manawari”.

Pietsau Amafnini

*Koordinator JASOIL Tanah Papua

 

Tinggalkan Balasan