Pastor Dr Neles Tebay (Foto: SP/ Robert Isidorus Vanwi)

Kekerasan Bersenjata Tak Selesaikan Masalah

JAYAPURA, CAHAYAPAPUA.com— Jaringan Damai Papua (JDP) baik di Tanah Papua maupun di Jakarta dan berbagai kota di Indonesia, menyampaikan rasa bela sungkawa yang mendalam dan turut berdukacita atas kepergian secara tragis dua anggota anggota Brimob Polda Papua.  JDP mengajak semua pemangku kepentingan mesti melibatkan diri dalam mencari bersama solusi yang komprehensif untuk menghentikan aksi-aksi penembakan terhadap manusia di atas Tanah Papua.

Hal itu dikatakan  Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) Pater DR. Neles Tebay kepada SP, Kamis (4/12) malam, terkait penembakan terhadap anggota Brimob,  Rabu, ( 3/12) pagi  di Ilaga, Ibu kota Kabupaten Puncak, Provinsi Papua.

“Kami yakin bahwa aksi penembakkan yang merenggut nyawa manusia ini tidak diterima oleh semua pihak yang menghormati, memajukan, membela, dan melindungi hak asasi yang paling mendasar bagi manusia yakni hak hidup. Setiap orang, entah apa pun profesinya atau latarbelakangnya, mempunyai hak untuk hidup,” ujar Pater  Neles Tebay.

Dikatakan, penembakan terhadap dua anggota Brimob ini dilakukan bukan tanpa alasan dan tujuan. “Kami mengharapkan para pihak yang berwenang akan melakukan investigasi, menemukan faktor-faktor penyebabnya, dan bila perlu hasil investigasinya dapat disampaikan kepada publik,” ujarnya.

Dikatakan, sekalipun tanpa investigasi, berdasarkan  pemantauan JDP selama ini, dapat dikatakan bahwa penembakan terhadap Brimob ini bukanlah peristiwa tragis yang terjadi pertama kali  di Tanah Papua. Peristiwa penembakan Brimob kemarin merupakan kelanjutan dari rangkaian  aksi-aksi serupa yang terjadi sebelumnya.

Peristiwa penembakan kemarin hanyalah memperpanjang daftar yang sudah ada.  Peristiwa penembakkan ini tidak dapat dipisahkan dari aksi-aksi penembakkan lain.

“JDP tidak mengharapkan peristiwa penembakan seperti ini terjadi terus-menerus di  Tanah Papua. Oleh sebab itu, upaya penghentian aksi-aksi kekerasan yang tragis ini mesti menjadi perhatian dan pergumulan bersama dari semua pihak, baik di Tanah Papua maupun di Jakarta,” katanya.

JDP mengakui bahwa penembakkan ini merupakan suatu indikator dari adanya masalah yang belum diselesaikan secara komprehensif. Karena, JDP yakin bahwa tidak mungkin seseorang membunuh orang lain tanpa alasan.

“Kami berharap investigasi yang dilakukan oleh Polisi akan mengungkap masalah menjadi penyebab dari penembakan terhadap anggota Brimob di depan Kantor Bupati Puncak Papua ini,” katanya.

Solusi Menyeluruh 
Sambil memaklumi tindakan-tindakan yang dilakukan pihak kepolisian setelah penembakan ini, JDP menegaskan pentingnya solusi yang menyeluruh. Bukan hanya pihak kepolisian, tetap semua pemangku kepentingan mesti melibatkan diri dalam mencari bersama solusi yang komprehensif untuk menghentikan aksi-aksi penembakan terhadap manusia di atas Tanah Papua.

“Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/kota), TNI, POLRI, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) yang merupakan sayap militer dari Organisasi Papua Merdeka (OPM), Tokoh-tokoh OPM di luar negeri, Para tokoh adat, paguyuban, tokoh agama, semuanya mesti dilibatkan dalam upaya mencari solusi yang menyeluruh,” ujarnya.

Kata dia, aksi kekerasan, entah siapa pun pelakunya, tidak akan membatu penyelesaian masalah. Aksi kekerasan  sebaliknya hanya akan memperkeruh dan memperpanjang masalah.  “Kutukan terhadap para pelaku penembakan tidak akan mencegah penembakan di masa depan.

Seperti yang diajarkan oleh pengalaman selama ini, penangkapan, pengadilan, dan pemenjaraan para pelaku penembakan, sekalipun penting dalam rangka menegakkan hukum,  bukan merupakan solusi yang tepat. Maka sekalipun banyak pelaku penembakkan ditangkap dan dipenjarakan di masa lalu hingga kini, tetapi aksi penembakan masih terus berlanjut,” ujarnya.

Maka, satu-satunya jalan yang manusiawi untuk menemukan solusi yang komprehensif adalah jalan dialog. “Oleh sebab itu, JDP tak henti-hentinya mendorong pentingnya dialog Papua yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Hanyalah melalui dialog, faktor-faktor penyebab dari penembakan dapat dilihat dalam perspektif yang luas, dibahas dengan kepala dingin, diidentifikasi yang jelas, serta secara bersama menemukan dan menyepakati solusi-solusi yang dapat diterima oleh semua pihak,” ujarnya.

JDP yakni, bahwa selama faktor-faktor penyebab belum ditemukan dan solusi-solusinya belum disepakati bersama, selama itu pula kemungkinan tetap terbuka bagi  anggota-angota brimob dan masyarakat sipil menjadi korban penembakan. Adanya dugaan pemasukkan dan penjualan senjata dan butir-butir peluru secara illegal memperlebar kemungkinan terjadinya penembakan di hari-hari mendatang.

“Kita tidak ingin, nyawa manusia terus direnggut. Kita tidak menghendaki adanya anggota-anggota Brimob yang lain menjadi korban di masa depan. Kita tidak ingin Papua terus menjadi Tanah  Konflik. Maka JDP mengajak semua pihak untuk duduk bersama dan membahas dengan tenang masalah-masalah yang menjadi penyebab dari penembakan dan solusi-solusinya melalui dialog Papua, “kata Pater. JDP kwatir bahwa menunda dialog berarti menciptakan kesempatan bagi jatuhnya korban manusia baik anggota Brimob maupun masyarakat sipil. [154/N-6/SUMBER: SP.BERITASATU.com ]

EDITOR: PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

Tinggalkan Balasan