WASIOR, Cahayapapua.com— Meski sudah tersedia jaringan irigasi namun sawah di pemukiman transmigrasi kampung Sobei Indah, distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama setidaknya dalam  2 tahun terakhir kerap mengalami kekeringan.

Pasalnya jaringan irigasi yang ada yang merupakan proyek Pemprov Papua Barat tahun 2015 tidak berfungsi secara optimal. Saluran irigasi tersebut dibuat tanpa memperhatikan kemiringan tanah sehingga di banyak tempat,  saluran irigasi justru berada lebih rendah dari permukaan sawah.

Akibatnya air tidak bisa lancar masuk ke petakan sawah dan malah lebih banyak meluber ke tempat-tempat yang tidak seharusnya.

“Jadi untuk mengatur air itu sangat susah karena kemiringan tidak bagus. Air hanya lewat saja di jaringan (induk) tidak banyak masuk ke sawah,” ungkap Asri Hasan, seorang petani transmigran kampung Sobei Indah ditemui di kantor kampung setempat baru-baru ini.

“Sampai sekarang belum ada perbaikan sehingga banyak petak (sawah) yang kering. Jadi berdampak sekali pada hasil (panen),” ujar Asri lagi.

Kesulitan yang dialami petani semakin bertambah karena hingga kini belum ada saluran sekunder untuk mengalirkan air dari jaringan irigasi induk ke dalam petakan sawah. Petani setempat terpaksa membuat saluran sekunder secara darurat.

“Kita buat  tali air dari tanah saja. Tetapi memang tidak bisa tahan lama karena kan cuma dari tanah saja,” lanjut Asri yang mengaku sejak 1990 tinggal di kampung Sobei Indah.

Kepala Balai Penyuluh Pertanian distrik Teluk Duairi Otto Wosiri mengakui jaringan irigasi yang tidak bisa berfungsi optimal mengakibatkan hasil panen padi menjadi tidak bisa maksimal. Bahkan sekitar 30 hektar sawah baru yang mulai dicetak tahun 2016 tidak bisa menghasilkan panen sebagaimana yang diharapkan karena terkendala pasokan air.

Otto berharap jaringan irigasi tersebut bisa  diperbaiki sehingga bisa berfungsi secara optimal sawah-sawah yang ada tidak lagi kekeringan akibat dari distribusi air yang tidak lancar.

“Ini baru sekitar dua tahun saja saluran sudah banyak yang rusak. Ada yang patah ada yang pecah-pecah karena dia punya campuran tipis sekali. Sudah jelas sekali proyek dikerjakan asal-asalan saja,” sesal Otto. (brv)

 

Leave a Reply