Jemput

Poro dengan Yance kemarin dorang dua jalan-jalan ke bendungan dengan mobil. Tempat ini terakhir dorang pergi tiga tahun lalu. Sepanjang jalan ke sana, dorang dua cerita trus. Biasa, otak-otak tara sampe. “Kawan, berapa hari ini kalau nonton berita sa mau muntah,” Poro buka suara. “Bah kenapa, ko macam orang hamil saja, mengidam ka?” “Itu anggota DPR pusat dorang, betul-betul su tara punya malu dan macam anak kecil saja.” “Ooh, yang banting meja itu ka? Yance bicara sambil tangan tetap mainkan stir. “Betul, sa rasa-rasa macam mau lempar pace dia, otak nangka,” Poro ganas. “Ini semakin jelas to, kalau yang duduk di DPR tu, tara semua terhormat. Gaya pejabat, tapi sebenarnya kampungan. Tara punya sopan santun,” Yance sindir. “Harusnya pikir, apa yang dorang bikin itu, jutaan masyarakat Indonesia liat. Termasuk yang kemarin pilih dorang,” Poro bikin diri pengamat. “Kawan, dorang itu su tara berpikir waras. Coba liat, masa bikin pimpinan DPR tandingan. Dorang mengerti undang-undang ka tarada. Kitorang yang tara sekolah hukum saja bingung liat dorang pu kelakuan ni. Lao-lao..,” Yance emosi. “Itu lagi…bilang kerja dan berjuang untuk kesejahteraan rakyat, tapi giliran tara dapat jabatan di komisi, bikin gerakan tambahan. Tipu skali.” “Kalau begini terus, pembangunan bisa terhambat, pemerintah bisa goyang.” “Kenapa goyang, jalan saja.” “Baru dewan bagaimana? “Kasih biar, nanti petugas rumah sakit jiwa yang jemput dorang….

Tinggalkan Balasan