Jerat

Mungkin karena su merantau cukup lama, poro pu kebiasaan yang tara laku dulu su mulai hilang. Salah satunya bangun lat.  “Sa senang liat ko berubah banyak skali,” mace buka suara pas dorang makan siang. “Memang harus begitu, terutama kitorang pu sikap dan cara berpikir,” poro gaya skali. “Tapi ngomong-ngomong setelah kembali ni ko mau bikin apa? mace potong. “Sa masih pantau dan liat peluang dulu,” poro bicara macam pengusaha saja. “Untuk sementara bagaimana kalau ko ojek,” mace saran. “Waduh, kayaknya su tara bisa, nanti orang bilang apa.” “Kenapa mau pusing dengan orang, memangnya dorang yang kasih makan ko? “Betul, tapi sa pu SIM juga su mati. Harus bikin baru. Kalau di sini sekarang berapa? Poro tanya. “Sa tara tau pasti. Cuma yang sa biasa dengar orang-orang di pasar bilang sekitar tiga ratus,” mace ingat-ingat. “Bah, mahal skali. Kalau sesuai aturan hanya seratus ribu.”  “Adoo ko ini macam tara tau saja, di republik ini apa yang tara bisa dorang bikin. Biaya lipat dua, lipat tiga, sampe talipat-lipat juga bisa,” mace sindir. “Ini namanya pungli. Tara boleh dikasih biar. Harus kitorang lapor ke instansi yang berwenang,”poro bikin diri keras.  “Aeeh ko stop dengan lapor-lapor tu, tarada yang mau dengar dan proses,” mace ganas. “Sekarang su beda, kalau ada pungli atau korupsi, biar sedikit, tetap KPK dorang kejar sampe kunang. Su banyak aparat yang kena jerat,” poro semangat.  “Ini sebenarnya ko mau bikin SIM atau pasang jerat untuk tikus tanah…..