Ilustrasi Pemerasan

Jual Motor Secara Online, Oknum Polisi Diduga Peras Anggota TNI

SORONG, Cahayapapua.com— Tiga oknum anggota Polres masing-masing Bripda JS (Polres Sorong Selatan), Bripda A (Raja Ampat) dan Bripda FM (Kota Sorong) diduga melakukan pemerasan terhadap anggota Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 13 Sorong Pratu HH dalam transaksi jual beli motor secara online.

Akibat pemerasan tersebut, ketiga oknum polisi itu dijebak dalam sebuah pertemuan lalu dihajar oleh teman-teman HH. Mereka juga dihajar warga karena dikira pencuri.

Kasus ini bermula ketika salah satu dari ketiga oknum polisi itu menjual motor bekas di situs jual beli barang bekas di daerah itu pada 11 Oktober lalu seharga Rp. 3,7 juta.

Keesokan harinya satu dari ketiga oknum itu menelpon Pratu HH untuk bertemu. Ketiga oknum tersebut kemudian bertemu HH, lalu salah satu dari mereka mengaku sebagai polisi yang bekerja di Polres Aimas Sorong (Polres Sorong Selatan).

Ia lalu mengatakan bahwa motor yang dibeli HH adalah motor curian tanpa surat kendaraan. HH lalu diancam akan dilaporkan ke polisi militer setempat karena dituding sebagai penadah. HH lalu diminta memberi uang kepada mereka sebesar Rp. 15 juta jika tak mau dilapor ke polisi militer. Saat itu salah satu oknum polisi menodongkan senjata revolver ke arah pinggang HH. Tak berkutik HH akhirnya menyerahkan uang Rp. 7,5 juta yang dijanjikan akan ditambah pada pertemuan kedua.

Pada hari ketiga, 13 Oktober 2016, setelah apel pagi HH melaporkan kejadian tersebut ke kantornya. Kasus itu kemudian dilaporkan ke Kapolres Sorong AKBP Muhammad Rudy karena salah satu oknum yang dikenali HH diketahui bekerja di Polres Sorong. Tetapi, setelah ditunjukkan data oleh Propam Polres Sorong tak ada satupun wajah yang dikenali HH.

Karena itu HH dan teman-temannya yang juga anggota Zipur menyusun rencana untuk menjebak oknum anggota Polisi tersebut. Pada pukul 18.00 Wit, Pratu HH kemudian dihubungi salah satu oknum anggota polisi tersebut untuk bertemu di depan Polsek Sorong Timur guna menyerahkan uang sisa sebesar Rp 7,5 juta.

Kemudian ketiga oknum anggota polisi tersebut datang ke tempat yang telah ditentukan menggunakan mobil Toyota Avanza warna silver dengan nopol PB 1746 KU, namun tempat bertemu diubah di depan Perumnas km 10.

Setelah bertemu di depan perumnas Km 10. oknum anggota polisi tersebut memaksa Pratu HH masuk kedalam mobil untuk transaksi sambil menodongkan senjata jenis revolver ke Pratu HH. Seketika saat itu Pratu HH berontak dan keluar dari mobil sambil menendang mobil. Dari kejauhan teman-teman Pratu HH yang sudah memantau langsung mengejar ketiga oknum tersebut dengan motor.

Setelah berhasil dihentikan oknum anggota polisi tersebut melakukan perlawanan dan berusaha melarikan diri. Namun mereka sempat diteriaki maling sehingga dihajar warga sekitar.

Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 1704/Sorong, Letkol infantri Daniel Lalawi dan Kapolres Sorong Kota, AKBP. Edfrie R Maith angkat suara soal kasus ini.

Daniel mengatakan pihaknya telah mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti persoalan tersebut untuk diselesaikan secepatnya agar kasus ini tidak merembet ke lain.

“Kami tetap lakukan siapa yang salah kami tindak lanjuti. Kita dari korem telah perintahkan ke dandim selaku pejabat teritorial untuk melakukan koordinasi akar permasalahan agar cepat selesai. Kemudian kami mendatangi pihak yang sakit agar tidak berkepanjangan kemudian hari,” kata Daniel, Jumat (14/10/16).

Sementara Kapolres Sorong Kota AKBP Edfrie R. Maith yang dihubungi wartawan mengatakan bahwa anggotanya saat ini belum bisa dimintai keterangan karena masih dirawat secara intensif di rumah sakit.

Jika anggotanya yang menjadi korban dapat berkomunkasi dengan baik, maka pihaknya akan mengsingkronkan informasi tersebut dengan anggota Denzipur. “Beritanya masih simpang siur, kalau sudah klop kita pasti infokan,” ucap Kapolres. (NSR)

 

Tinggalkan Balasan