Elisa Sahat Maruli Hutagalung Foto: portalkbr.com

Kajati Papua Sebut Diganti Karena Keinginan Gubernur

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, Elisa Sahat Maruli Hutagalung mengatakan Gubernur Papua, Lukas Enembe tak menginginkannya lagi menjabat sebagai Kajati Papua.

Itulah salah satu penyebab kenapa Hutagalung yang selama ini dikenal tak mengenal kompromi terutama untuk kasus-kasus korupsi, diganti oleh wakilnya, Herman Da Silva.

Maruli mengatakan, keinginan gubernur untuk mengganti dirinya sudah mencuat sejak bulan Juli 2014 tepatnya sebelum muncul usulan pergantian yang berakhir dengan keluarnya SK Kejagung soal pergantian tersebut. Maruli yang telah menjabat selama setahun mengaku sudah menerima SK tersebut.

Menyusul kehendak pergantian itu muncul karena keinginan atau pesanan Gubernur Papua, Maruli mengatakan itu bisa berdampak kepada independensi kejaksaan. Jangan sampai Kajati papua berada di bawah kekuasaan gubernur, sehingga penyelidikan sejumlah kasus korupsi harus atas kehendaknya.

Meski demikian, Maruli menyebut pergantian adalah hal biasa. “Wajarlah jika saya diganti. Soalnya sudah lebih setahun saya menjabat. Perlu penyegaran di tubuh Kejati Papua,” katanya.

Namun dibalik keihlasan Maruli,  ia mewanti-wanti agar pergantian tersebut melahirkan pimpinan kejaksaan yang memiliki integritas. “Perlu diingat, apakah Kajati Papua baru yang gantikan saya ini, mampu selurus saya, tidak pernah kenal kompromi,” ujarnya kepada CAHAYAPAPUA.comKamis, 23 Oktober 2014.

Ia juga berharap agar Kajati Papua yang baru menuntaskan sejumlah kasus korupsi yang ditangani kejaksaan, baik yang masih dalam tahap penyelidikan maupun penyidikan.

Meski SK tersebut sudah ada namun hingga saat ini Maruli secara prosedural masih menjabat sebagai Kajati sebab serah terima jabatan (sertijab) belum dilakukan.

Selanjutnya, Maruli akan menjabat sebagai Direktur Perdata di Kejaksaan Agung. Ia juga mendapat kabar akan ditugaskan sebagai jaksa agung muda tindak pidana khusus.

Kasus Korupsi

Dalam konteks Papua Barat, selama menjabat sebagai Kajati Papua, Maruli memang terbilang berprestasi dibanding pendahulunya, Monang Pardede, karena institusi yang dipimpinnya mampu membongkar sejumlah kasus korupsi yang besar.

Misalnya, kasus korupsi 42 anggota DPR Papua Barat 2010, korupsi dana bantuan sosial 2010 di Wondama, kasus pembangunan jalan Aiwasi-Kebar 2008, kasus pembangunan kantor MRP-PB tahun 2012-2013, dugaan korupsi proyek jalan SP IX-XI 2011 di Manokwari, dugaan korupsi pengadaan peralatan PBTV di Biro Humas Papua Barat 2012, serta dugaan korupsi APBD Papua Barat tahun 2012 senilai Rp.78 miliar. |TAKDIR

Editor: Patrix Barumbun Tandirerung

Tinggalkan Balasan