Upacara Bendera di Kampung Undurara, Distrik Naikere, Teluk Wondama, Papua Barat Foto: CAHAYAPAPUA.com/ Adlu Raharusun

Kampung Undurara Butuh Jalan, Bukan Nasionalisme Semu

Puluhan Warga Kampung Undurara,Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat  berkumpul di samping sebuah Gedung Gereja berdinding papan, Sabtu 18 Oktober 2014.  Sejurus kemudian, seorang pejabat distrik mengarahkan mereka berbaris menghadap tiang bendera. Anak kecil di barisan depan sementara para tetua di belakang.  Angin bertiup lumayan kencang, membuat bendera merah putih diatas tiang itu berkibar-kibar.

Oleh: ADLU RAHARUSUN

LALU datanglah Kepala Distrik Naikere, Yotefa Siregar memberi arahan.  “Bapak ibu ade – ade sebentar kalau dengar kata hormat kitong semua mengangkat tangan kanan di samping testa (dahi) dan menghadap ke bendera,” katanya seraya memberi contoh.

Kepala Kampung Undurara, Martinus Uryo lalu menerjemahkan arahan Yotefa Siregar ke dalam bahasa daerah setempat. Warga membalasnya dengan mengangguk.

Sementara beberapa anak bertelanjang kaki di barisan depan tertawa kecil mengikuti gerakan sang Kepala Distrik.

Upacara bendera awalnya berlangsung hikmat. Namun warga tak bisa menyembunyikan rasa kikuknya.

Di tengah prosesi, pembawa acara, Early Trinanda, pegawai dari  dinas catatan sipil Kabupaten Teluk Wondama mengajak warga menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Ajakan itu lalu disambut pembina upacara Yotefa Siregar dengan teriakan lantang; “hormaat gerak!”. Warga justru terlihat kebingungan.

Mereka memandang satu sama lain.  Namun itu cuma sesaat, ketika seorang warga memberi hormat, mereka ramai-ramai mengikutinya.

Lagu Indonesia Raya lalu mengikuti prosesi penghormatan. Hanya beberapa orang yang ikut menyanyikannya. Warga mengikutinya dengan nada fals dan lirik yang patah-patah.

“Ini pertama kalinya orang kampung ikut upacara bendera,” aku Kepala Kampung Undurara Marthinus Uryo kepada CAHAYAPAPUA.com usai upacara singkat itu.

Warga setempat sebenarnya sama sekali tidak tahu apa maksud prosesi upacara ini.

Undurara merupakan salah satu kampung terpencil di Papua Barat. Kampung ini adalah perbatasan Kabupaten Teluk Wondama dengan kabupaten tetangga. Di sebelah barat ada Kaimana dan di Timur berbatasan dengan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua.

Menjangkau Kampung Undurara bukan perkara mudah. Yang cepat adalah melalui jalur udara menggunakan Helikopter yang berpangkalan di Kabupaten Nabire.  Nabire- Undurara ditempuh dalam waktu 45 menit.

Sayangnya warga tak punya helikopter. Biasanya mereka berjalan kaki jika memiliki keperluan di Wasior, Ibukota Teluk Wondama.  Jaraknya 200 Km, dan ditempuh selama 2 hari. Warga melalui medan berat: hutan belantara, gunung hingga menyeberangi sungai.

Marthinus Uryo merasa sangat prihatin atas keterisolasian ini.

“Bahan bangunan rumah macam semen saja kami pikul dari Wombu. Dua kilometer dari sini. Kalau beras ambil di Kampung Simbiei, lewat gunung baru bisa sampai,”tuturnya.

Marthinus berharap kampungnya segera mendapat sentuhan pembangunan. Setidaknya pembangunan infrastruktur berupa jalan.

Inilah potret betapa tertinggalnya Tanah Papua di banding daerah lain di Indonesia. Wajar saja jika keterisolasian, membuat mereka tak mengerti apa itu nasionalisme, hormat pada bendera apalagi menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Bagi warga, keluar dari ketertinggalan, lepas dari beban hidup, jauh lebih penting dibanding ceremonial upacara macam ini, semu! (*)

Editor : Patrix Barumbun Tandirerung

Tinggalkan Balasan