Rumah Warga di Undurara, Distrik Naikere. Sebagian Besar Rumah Warga Masih Berupa Gubuk yang Berdinding Kulit Kayu, Beratap Daun Sagu. Mereka Butuh Sentuhan Pembangunan
Rumah Warga di Undurara, Distrik Naikere. Sebagian Besar Rumah Warga Masih Berupa Gubuk yang Berdinding Kulit Kayu, Beratap Daun Sagu. Mereka Butuh Sentuhan Pembangunan

Kampung Undurara Minim Sentuhan Pembangunan

WASIOR, Cahayapapua.com— Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama perlu memberi perhatian lebih terhadap masyarakat yang berada di pedalaman distrik Naikere. Masyarakat setempat sampai sekarang ini masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan .

Sebagian besar penduduk di wilayah yang dulu dikenal dengan Udik Wosimo ini tidak tahu tulis baca alias buta huruf karena tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Mereka juga sangat jarang mendapat layanan kesehatan karena belum ada sarana kesehatan yang dibangun. Kalaupun ada, tidak ada petugas medis yang mau bertugas di sana.

Kampung Undurara salah satunya. Di kampung yang dihuni 159 jiwa ini, sama sekali belum ada fasilitas kesehatan seperti pustu atau polindes. Ketika ada yang terserang penyakit, warga hanya mengandalkan obat yang diramu sendiri.

Tak heran, jika nyawa yang tidak tertolong meskipun penyakit yang diderita sebenarnya bisa diobati. “Dokter tidak ada di sini,”ujar Anton Urio, salah seorang warga Undurara kepada Cahaya Papua di Undurara, baru-baru ini.

Demikian pula pendidikan. Bangunan SD memang baru selesai dibangun namun sekolah belum berjalan karena belum ada guru yang ditempatkan di sana. “Anak-anak ada yang sekolah (SD) di Wombu (dulu ibukota distrik Naikere),”kata Martinus Urio, kepala kampung Undurara.

Alhasil banyak warga yang belum bisa berbahasa Indonesia. Bahkan lebih miris lagi, banyak diantara mereka yang tidak tahu berapa umur mereka, kapan dilahirkan dan sebagainya.

Warga Undurara juga hampir seluruhnya masih tinggal di rumah yang sangat sederhana yang berbentuk kotak dengan model panggung. Rumah mereka menggunakan dinding kulit kayu dengan atap daun sagu. Hanya ada 4 unit rumah semi permanen yang dibangun Pemda.

Pendidikan yang sangat minim membuat warga setempat hanya bergantung pada alam. Tidak ada kebun  yang dibuat warga karena mereka belum paham cara bercocok tanam yang baik. Keladi dan betatas yang tumbuh secara alami menjadi makanan utama mereka dipadu dengan daging hasil buruan seperti babi dan rusa.

Tidak ada kios yang menjual barang-barang sembako maupun lainnya. Jika ada warga yang rutin minum teh atau kopi, maka hampir bisa dipastikan barang itu dibawa dari kota atau dibawa oleh orang luar yang datang.

“Biasanya warga di sini kalau turun ke kota (Wasior) langsung beli banyak-banyak (sembako) memang. Karena kan jauh,”jelas Martinus.

Undurara juga belum memiliki kantor kampung sebagai pusat aktivitas pemerintah kampung. Tidak ada jalan rabat beton seperti yang banyak dijumpai di kampung-kampung lainnya. Tidak ada bak air, tidak ada penerangan di malam hari apalagi televisi sebagai hiburan.

Mewakili warganya, Martinus berharap Pemda membuka jalan darat sehingga kendaraan bisa masuk hingga ke kampung. “Kalau ada jalan baru kami bisa maju,”ucap dia.

Bupati Bernadus Imburi dalam kesempatan peresmian gedung gereja di Undurara telah memerintahkan semua SKPD terkait untuk memperhatikan warga di Undurara dan kampung lain di Naikere. Yang utama adalah pendidikan dan kesehatan.

“Sekolah (SD) sudah ada jadi Kepala Dinas Pendidikan harus tindaklanjuti (siapkan guru). Kesehatan juga, saya minta Dinas Kesehatan harus perhatikan masyarakat di sini. Ini pekerjaan rumah bagi kami Pemda,”kata Imburi. (BRV)

Tinggalkan Balasan