Maman Suherman

Kang Maman: Papua indah dan kaya budaya

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Papua merupakan negeri yang indah. Pesona dan misterinya memikat siapa saja, termasuk Maman Suherman, penulis dan artis Indonesia Lawak Klub (ILK), yang tayang setiap Sabtu & Minggu di Trans7.

“Papua adalah bagian dari Indonesia yang harus mendapat perhatian yang sama dengan wilayah-wilayah lain di negeri ini, dalam berbagai aspek kehidupan. Papua di mata saya adalah surga yang diturunkan Tuhan ke muka bumi, yang alamnya indah dan sangat kaya dan budayanya pun sangat beragam dan kaya,” ujar Maman, Jumat, (7/7).

Maman Suherman akan berkunjung ke Manokwari 29-30 Juli untuk mengisi beberapa agenda jalan-jalannya di Kota Injil Manokwari. Salah kegiatan Kang Maman, sapaan akrab Maman Suherman, adalah menjadi narasumber seminar literasi sekolah di kompleks Yapis yang diselenggarakan Komunitas Motor Noken Pustaka.

“Literasi bukan semata bisa baca, tulis dan hitung. Tapi kemampuan mengolah, memahami dan memaknai berbagai informasi yang diterima. Jika kemampuan itu tidak terasah, maka bisa diduga individunya akan mengalami berbagai kegagalan dalam memahami dan memaknai informasi yang ada.

Itu sekaligus berarti, akan sulit baginya untuk menerima dan memahami pelajaran yang diberikan. Karenanya, budaya literasi baik teknis, fungsional maupun budaya harus diberikan sejak dini,” ujarnya seperti siaran pers yang diterima Cahaya Papua kemarin.

Kang Maman lahir di Makassar, 10 November 1965. Pria yang juga lulusan Kriminologi FISIP UI melalang buana hingga menjadi “kuli tinta” di ibukota. Ia pernah menjadi jurnalis di Tabloid Nova, Tabloid Citra, dan beberapa media di grup Kompas Gramedia.

Penggagas Panasonic Gobel Award telah menulis beberapa buku, diantaranya buku Matahati (2012), Bokis 1:Kisah Gelap Dunia Seleb (2012), dan Bokis 2:Potret Para Pesohor (2013), Novel RE (2014) dan Perempuan (2016). Selain disibukkan dalam dunia entertainment, dirinya juga melakukan gerakan membaca (literasi).

Ia sering mengistilahkan gerakannya tersebut sebagai gerakan sedekah 4 huruf: yakni, Baca, Iqra, Read dan Buku. Saat ditanya tentang keberadaan penggiat literasi di Manokwari seperti Noken Pustaka ia merespon sangat positif.

Ia mengaku sangat ingin bersama-sama institusi pendidikan, kepustakaan statis maupun bergerak lainnya, ikut memacu minat baca masyarakat Papua.

Dia berharap aktivitas literasi yang didorong sejumlah komunitas selama ini, dapat meningkatkan budaya membaca bersama, menceritakan kembali apa yang dibaca, dan menuliskan intisari atau pemahaman tentang bacaan.

“Menjadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai kebiasaan, bahkan sebagai kebutuhan dengan cara-cara yang menyenangkan seperti dengan “menghidupkan” buku: kegiatan baca puisi, dongeng, musikalisasi puisi dan sebagainya (itu sangat penting),” tutup kang Maman. (*)

Tinggalkan Balasan