Kapal Rainbow Warior Greenpeace yang kembali merapat di Manokwari

Kapal Rainbow Warior Greenpeace kampanyekan hutan adat Papua

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Setelah berlayar enam hari lamanya dari Tacloban, Filipina. Kapal legendaris Greenpeace Rainbow Warrior, Senin (12/3) kembali menyinggahi Manokwari. Dengan sandarnya Laskar pelangi di Pelabuhan Pelni Manokwari ini, menjadikan bumi cenderawasih sebagai pintu utamanya.

Rainbow Warrior yang diklaim kapal ramah lingungan ini mengsung tena tour “Jelajah Harmoni” yang bertujuan untuk menggali inspirasi dan menggaungkan aksi nyata penyelamatan lingkungan oleh masyarakat dalam mengembalikan keseimbangan di alam Nusantara.

Kapal legendaris tersebut dinakhodai oleh kapten perempuan bernama Hettie Geenen, dan membawa sekitar 19 awak kapal dari berbagai Negara seperti Meksiko, Jerman, Belanda, dan termasuk Indonesia.

Tari penjemputan mengiringi proses bersandar kapal legendaris tersebut di Pelabuhan Manokwari. Para penari dari komunitas Iriantos menari di atas perahu, sebuah tarian yang sering disuguhkan untuk menyambut tamu yang baru menginjak Tanah Papua setelah perjalanan yang jauh.

Penyambutan semakin meriah, para kru kapal yang dipimpin Hettie satu persatu turun dari kapal melakukan ritual penyambutan kemudian menari bersama.

“Kami sangat senang berada di Manokwari setelah 6 hari berlayar dari Filipina. Ini merupakan hal yang menyenangkan untuk melihat tanah dan  hutan,” kata Kapten Hettie.

Hettie mengaku pernah beberapa kali berada di Hutan Amazon dengan kapal-kapal Greenpeace, berkesempatan melihat yang terjadi di Hutan Amazon, Brazil. Di bagian tengah hutan di sana banyak sekali deforestasi yang benar-benar menyedihkan hati.

“Saya juga belajar bahwa deforestasi Indonesia lebih parah dari di Brazil. Ini harus diselamatkan. Karena ini adalah masa depan kita,” kata Hettie yang mengaku sebelumnya adalah pengusaha mebel di Belanda.

Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak mengatakan kunjungan Rainbow Warrior ke Papua sebagai persinggahan pertama merupakan komitmen Greenpeace dalam menjaga hutan Papua.

“Hutan Papua sangat krusial karena Indonesia berpartisipasi dalam Paris Agreement untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,” ujarnya.

Simanjuntak mengatakan, di tanah Papua yang paling penting adalah hutan adat. Greenpeace selalu bekerjasama dengan masyarakat adat dan Rainbow warrior ini adalah sebagai wahana untuk berkolaborasi.

Ditektorat Jenderal (Dirjen) Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH), Bambang Suprianto mengatakan gerakan lingkungan harus terus disuarakan di Indonesia agar semakin meningkat.

“Untuk menyelamatkan hutan dan mempertahankan lingkungan di Indonesia dibutuhkan gerakan publik. Dan hari ini Greenpeace yang terdiri dari beberapa anggota dari berbagai negara di dunia, membantu menyuarakan gerakan publik di suarakan ke seluruh dunia dengan Rainbow Warrior,” kata Bambang.

Sementara Sekda Provinsi Papua Barat, Nataniel Mandacan menyatakan pemprov mendukung penuh kebijakan pemerintah pusat terutama perhutanan sosial.

Nataniel menegaskan, tanah Papua mulai dari darat hingga laut memiliki tuan tidak lain adalah masyarakat adat. Sehingga aturan terkait lingkungan tidaklah menyusahkan masyarakat adat.

Rainbow Warrior akan melanjutkan perjalanan ke Sorong dan Raja Ampat lalu ke Bali, ke Jakarta, dan perairan laut Jawa selama seminggu untuk melakukan aktivitas dokumentasi lingkungan. Setelah itu, Rainbow Warrior akan meneruskan penjelajahannya ke ke Thailand.

Salah satu kru kapala Rainbow Warrior asal Bali, Agus saat menjelaskan sejarah kapal tersebut mengatakan armada kapal Greenpeace adalah aset unik dalam perjuangan menyelamatkan planet bumi dan melindungi kepentingan sesama. Kapal digunakan di garis depan kampanye Greenpeace, kerap berlayar ke kawasan terpencil untuk menjadi saksi langsung dan beraksi menghadapi perusakan lingkungan.

Rainbow Warrior generasi ketiga ini adalah kapal pertama yang dibuat dan didesain khusus bagi Greenpeace. Kapal ini dibuat dengan hasil urun dana dari jutaan pendukung kami di seluruh dunia.

Kapal ini merupakan bentuk nyata dari sebuah perjuangan kampanye lingkungan dari orang-orang yang ingin maju bersama nilai-nilai Greenpeace.

Kapal secara primer berlayar menggunakan tenaga angin. Sistem tiang kapal A-Frame setinggi 55 meter bisa membawa jauh lebih banyak layar dibanding tiang kapal konvensional dengan ukuran yang sama. Ini adalah kali pertama desain semacam itu dipasang pada kapal sebesar Rainbow Warrior.

Warrior memang punya juga mesin listrik untuk membantu jika cuaca tidak mendukung, tetapi mesin ini juga dibangun dengan konsep ramah lingkungan.

Di dalam kapal bisa menyimpan hingga 59 meter kubik air hitam dan kotor, sehingga bisa memastikan tidak ada limbah yang dibuang di laut. Dilengkapi juga sistem penyaringan biologis khusus untuk membersihkan dan mendaur ulang air kotor.

Selain itu, beberapa skema ramah lingkungan Rainbow Warrior. Bentuk badan kapal yang dirancang khusus untuk efisiensi energi yang superior. Tiang kapal A-Frame dan layar yang dioptimalisasi untuk pelayaran efektif sistem kemudi listrik 10 knot hanya membutuhkan 300kW.|Elyas Estrada/Lisna Boroallo/Adlu Raharusun

Leave a Reply

%d bloggers like this: