Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Royke Lumowa (kiri) berbicara dengan Pangdam XVII Cenderawasih  H. Siburian (kedua dari kiri) di depan kamar mayat RSAL, Manokwari, Kamis, saat melihat langsung korban penembakan Ones Sebrinus Rumayom yang meninggal dunia setelah terkena peluru dalam bentrok Rabu malam lalu.
Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Royke Lumowa (kiri) berbicara dengan Pangdam XVII Cenderawasih H. Siburian (kedua dari kiri) di depan kamar mayat RSAL, Manokwari, Kamis, saat melihat langsung korban penembakan Ones Sebrinus Rumayom yang meninggal dunia setelah terkena peluru dalam bentrok Rabu malam lalu.

Kapolda Klaim Korban Meninggal Bentrok Bukan Akibat Tembakan

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Kapolda Papua Barat (PB) Brigjen Pol Royke Lumowa menyebutkan bahwa penyebab meninggalnya Ones Sebrinus Rumayom dalam bentrok Rabu malam bukan karena tembakan yang mengenai pahanya.

“Perlu kami tegaskan disini, dari hasil keterangan dokter pada RS AL (Rumah Sakit Angkatan Laut) korban meninggal dunia bukan karena luka tembakan. Karena tidak ada pendarahan yang hebat pada korban,” kata Lumowa dihadapan sejumlah awak media, Kamis (27/10).

Lumowa mengklaim bahwa kondisi korban saat berada di RS jantungnya sudah dalam keadaan lemah. Dan saat itu petugas medis berupaya menyelamtkan nyawa korban namun korban dinyatakan meningga; setelah beberapa saat berada di RS.

Meksi demikian, kata Lumowa, pihaknya mengakui bahwa korban terkena tembakan berasal dari senjata api milik kepolisian. Namun disebutnya lagi bahwa korban meninggal bukan karena luka tembakan tersebut.

“Memang betul korban kena tembakan pada paha kiri bagian belakang. Tapi dia (korban red) meninggal bukan karena peluru polisi. Dan saya tidak bisa mengatakan karena apa yang jelas bukan karena luka tembak,” kata dia.

Menurut Lumowa lagi, luka tembak yang mengenai paha korban adalah bukan berasal dari peluru tajam melainkan berasal dari peluru karet. Selain itu sebut dia, bahwa anggotanya sudah melakukan tembakan sesuai protap (SOP) yakni dengan mengarahakan tembakan kearah bawah.

“Itu peluru karet bukan peluru tajam, dengan keadaan terdesak untuk menyelamatkan diri, anggota mencoba melepaskan tembakan peringatan kearah bawah dan memantul,” ujarnya.

Selanjutnya papar dia, bahwa korban meninggal dunia hanya satu orang. Oleh karena itu dihimbaunya agar tidak menggunakan kabar yang beredar tanpa sumber yang jelas.

Lumowa pun mengemukakan bahwa pemicu bentrok antar warga Sanggeng dengan pihak kepolisian berawal dari penikaman Fijay Paus-Paus saat membeli nasi di salah satu warung makan yang berlokasi di jalan Yos Sudarso.

“Karena korban Fijay ini tidak memiliki uang untuk bayar, lalu saat ditagih dia membuat keributan. Dia ribut bukan dengan pemilik warung tapi dengan salah satu pengunjung sehingga hal ini yang tidak diterima oleh teman-temanya di Sanggeng dan terjadilah keributan dengan merusak warung makan itu. Sebenarnya Korban ini ada kesanggupan membayar tapi karena sudah terlanjur timbul kesalahpahaman,” jelasnya.

Aksi kejar-kejaran antar warga kian melebar sehingga saling melempar dan pembakaran pun tak terhindarkan yang dilakukan oleh massa. “Terdapat 6 unit sepeda motor serta pos polisi Sanggeng yang baru di bangun itu di bakar di bagian depan. Api hanya mengena pagar seng yang berada di depan pos polisi, sementara kaca pos yang di gunakan itu di lempari massa,” ujar Kapolda.

Kepolisian yang tergabung dalam sabhara dan Brimob Polda Papua Barat kemudian di terjunkan melakukan pengamanan dengan dilengkapi senjata dan kendaraan baja. Polisi sempat membubarkan masa dengan menembakan gas air mata dan tembakan peringatan, tembakan pantul serta tembakan yang mengarah ke kaki sehingga menimbulkan korban.

Korban akibat luka tembak atas insiden itu adalah Pascal Mayor kena luka tembakan dipaha kanan tepat di depan Bank Papua, Tinus Urbinus kena peluru nyasar di telapak tangan kiri tepat di latando, Ricki Ingrabiuw kena peluru nyasar di bagian leher, Orgenes Asaribab kena peluru di paha serta di pukul hingga bagian kepala bocor. Antonius  Rumbruren dan Markus Suabey serta Obet Ayok yang dipukul. Selain itu terdapat satu korban meninggal yakni Ones Sebrinus Rumayom kena tembakan di paha kanan. Selain itu Danramil Kota yang turun lokasi menjadi korban saat hendak mencegah warga yang saat itu membawa cerigen berisi bensin. Kemudian dibacok di bagian kepalanya.

“Saya berani mengatakan dan yakin seyakin yakinnya atas informasi dari dokter bahwa korban ini meninggal bukan karena kena tembakan dipaha, untuk memastikan itu kita harus melakukan autopsi “ ujar dia.

Sementara, Yulianus Rumayomi sebagai kerabat korban mengatakan menolak untuk dilakukan otopsi. Meski sebelumnya, hal itu sudah diminta oleh Kapolda agar keluarga memiliki dasar hukum bila di bawah ke ranah hukum.

“Keluarga pasrah serta iklas menerima dengan kondisi saat ini dengan berharap mayat diformalin kemudian di bawa ke rumah duka. Dan kami juga bersepakat agar tidak membawa hal ini ke ranah hukum di semua tingkatan, atau ada yang mau membawa ke komnas Ham silahkan berurusan dengan Kapoldam,“ ujarnya.

Keluarga korban hanya meminta prosesi mayat ini dari RS hingga rumah duka bahkan sampai ke tempat peristirahatan terakhir ini menjadi tanggung jawab pihak Polda PB.

Dari pantauan lapangan, bentrok antara warga dan pihak kepolisian, sekitar Rabu (26/10), sekira pukul 22.00 WIT. Sementara di seputaran jalan Yos Sudarso Sanggeng, terjadi aksi pelemparan batu oleh warga dari arah perempatan lampu merah. Sementara pihak aparat berada di depan pasar Sanggeng.

Polisi melakukan penembakan dengan mengarahkan laras senjata secara sempurna ke arah warga, hal itu berakibat beberapa orang yang kena peluru. Selain di Sanggeng warga juga melakukan aksi membakar enam buah motor ban serta melakukan pemalangan di pertigaan Fanindi depan Hotel Triton.

“Pada pagi tadi kantor polsek di serang oleh warga mereka membawa bom molotov, namun belum sempat melemparnya polisi berhasil mengamankan warga tersebut kemudian mengejar mereka hingga masuk ke sanggeng dalam. Meskipun tidak membuahkan hasil,” tambah kapolsek Kota Kompol Suroto saat di temui di RSAL. (MAR)

Tinggalkan Balasan